Tuesday, September 20, 2016

AOE: Bangkok Hari #1

 CGK to DMK

Bangkok memang sudah menjadi tujuan liburan saya dan grup dari lama tapi belum sempat terealisasi karena bentrok jadwal satu sama lain. Tahun ini, kami memiliki kesempatan emas untuk berkunjung kesana karena kami menemukan waktu yang pas untuk berlibur. Tiket pesawat pun kami cari dengan semangat. Bukan hal yang mudah untuk menemukan tiket pesawat murah. Promosi yang ditawarkan oleh para agen kami dapatkan, tapi tidak segampang membalikan tangan. Uang yang tersedia saat itu menjadi kendala, akibatnya tiket selalu kehabisan. Kami mencoba segala cara dari mulai mencoba cek di maskapai langsung pada jam tertentu sampai menanyakan kepada teman-teman yang sudah berpengalaman traveling kesana. Kami hampir saja frustasi bertaruh dengan waktu yang sudah ditetapkan. Waktu pun berjalan semakin mendekati hari H. Kami sempat ingin menyerah untuk membeli tiket reguler yang harganya cukup mahal, yaitu hampir IDR 2 juta untuk pulang pergi per orangnya (memang berencana untuk traveling low budget); sampai akhirnya rezeki kami pun datang. Promosi baru mulai disebarkan oleh para agen. Ada 3 agen yang kami pilih, salah satunya kami jadikan partner apabila mencari tiket pesawat kemana saja karena harga tiket di agen tersebut lebih murah dari yang lainnya, dapat dipercaya, dan servisnya pun cukup memuaskan. Kami mendapatkan tiket CGK- DMK seharga IDR 850 ribu untuk pulang pergi perorangnya. Lebih dari 50% murahnya dari tiket reguler. Kami langsung membeli tiket tersebut tanpa menunggu lagi dan rencana kami untuk liburan ke Bangkok akhirnya terealisasi.

Selain mencari tiket pesawat, kami juga harus mencari tempat penginapan. Saya pribadi memilih situs Booking.com (bukan promosi ya) karena di situs tersebut, saya dapat booking terlebih dahulu tanpa ada pembayaran sedikitpun dan gratis biaya pembatalan (apabila terdapat informasi "free cancelation"). Beberapa penginapan pun kami sortir dan akhirnya kami dapat satu penginapan yang sesuai dengan selera kami. Murah, nyaman, bersih, dan tidak banyak aturan. Adalah O'Nidra house, sebuah guest house 5 lantai yang terletak di Surawong road, Bangkok. Tempat ini menyediakan kamar seperti asrama, satu kamar sharing dengan customer lainnya. Kami memilih kamar tersebut karena grup kami memang terdiri dari 4 orang dan tidak ingin terpisah karena masalah kenyamanan dan keamanan. Harga yang kami bayar pun cukup murah yaitu THB 4025 untuk 4 orang dan 4 malam. Jadi seorangnya sekitar THB 251 atau sekitar IDR 95 ribu per malamnya. Cukup murah kan?

Waktu terus berjalan. Hari H pun tiba. Kami semua bergegas berangkat ke bandara Soekarno-Hatta dan tiba pada pukul 3 sore karena jadwal keberangkatan kami pada pukul setengah 5 sore. Ketika sampai dan melihat jadwal keberangkatan, pesawat kami ternyata delay 2.5 jam. Kami pasrah menghabiskan waktu di bandara. Makan, ngobrol-ngobrol, dance, dan aktivitas lainnya kami lakukan di bandara. Sekitar pukul setengah 6 sore, kami memasuki area boarding room. Pihak maskapai pun meminta maaf karena delay dan memberi para penumpang nasi kotak sebagai permintaan maaf. Kami tentu saja cukup senang karena mendapatkan makan malam gratis. Hahaha... Nasi kotak tersebut langsung kami santap sampai habis karena memang sudah cukup lapar setelah menunggu 2.5 jam.

Waktu menunjukan pukul 7 malam, tapi kami pun belum diminta untuk masuk ke dalam pesawat. Ada beberapa penumpang lain yang marah karena tidak ada penjelasan tentang keterlambatan keberangkatan. Kami hanya sibuk dengan diri kami sendiri karena marah pun tidak akan membuat kami semua berangkat. Pihak maskapai kembali meminta maaf melalui pengeras suara karena pesawat kembali delay 1 jam. Sesaat setelah mendapatkan informasi tersebut, kami kembali melakukan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya kami lakukan untuk menghabiskan waktu.


Berjam-jam menunggu keberangkatan.
PUKUL SETENGAH 9 MALAM!! Akhirnya kami dipersilakan untuk masuk ke dalam pesawat dan tidak lama kemudian kami pun diberangkatkan menuju bandara Don Mueang, Bangkok.

Setelah sekitar 3 jam perjalanan CGK-DMK, akhirnya kami sampai di DMK. Kami semua turun menuju bagian imigrasi. Pendatang yang masuk ke imigrasi sangat banyak sampai mengantri 5 baris!! Dengan sabar kami menunggu sampai akhirnya berhasil masuk ke dalam area bandaranya. Ada satu hal yang menyita perhatian saya. Pada saat itu sudah pukul 1 malam dan kami harus melewati bagian bea cukai/pengecekan barang yang akan masuk ke kota Bangkok. Begitu masuk ke area bea cukai tersebut, saya tidak melihat satu pun orang yang menjaga. Hanya ada mesin scan barang yang tidak dijalankan di area tersebut. Awalnya saya bingung, takut salah masuk area, tapi petugas setempat membenarkan bahwa pintu keluar harus melewati area tersebut. Kami pun bisa keluar tanpa ada pengecekan barang sama sekali. Aneh bukan? Gimana kalo ada barang-barang aneh ya?
Menunggu antrian di bandara Don Mueang, Bangkok.
Sesaat setelah keluar bandara, kami langsung mencari kartu sim untuk jaga-jaga apabila kami tersesat. Memang di sekitar bandara banyak yang menjual kartu perdana beserta paket yang ditawarkan. Kami memilih kartu "True Move" tak lain hanya karena paket datanya. Mereka menawarkan paket data turis yang terdiri dari pulsa THB 100, kuota full speed koneksi data sebesar 2 atau 3.5 GB (lupa), dan memang sudah menggunakan koneksi 4G. Harga kartu tersebut hampir sama dengan harga kartu perdana di Indonesia yaitu sekitar THB 299 atau kurang lebih sekitar IDR 120 ribu. Kami juga meminta tolong kepada si penjual untuk men-setup kartu perdana tersebut karena tulisan yang tersedia di awal adalah tulisan Thailand yang tidak kami mengerti. Dan ketika kami sudah memiliki koneksi internet, kami langsung memesan Uber karena saat itu sudah terlalu larut malam (sekitar pukul 2 pagi).


True Move sim card
Begitu sampai di O'Nidra house, kami langsung masuk dari pintu belakang. Awalnya kami bingung karena tempat tersebut terlihat tutup dari luar. Begitu kami telepon sang penjaga, kami pun diberi password untuk membuka pintu belakang dan uniknya lagi, para pelanggan yang datangnya melewati jam check-in (21:00), dipajang nama dan kamar serta lantainya di pintu belakang. Kami langsung bergegas menuju kamar kami di lantai 2 untuk beristirahat.


Ucapan selamat datang di depan pintu kamar.
Kamar yang kami tempati.
Keesokan harinya, kami melakukan check-in dan membayar penginapan terlebih dahulu. Biaya penginapan kami untuk 4 orang dan 4 malam hanya THB 4025 atau sekitar IDR 1.5 juta. Dengan kamar yang nyaman dan bersih, harga tersebut sudah sangat murah.

Chatuchak Weekend Market

Hari kedatangan kami adalah hari minggu dan kami memutuskan untuk belanja terlebih dahulu di salah satu pasar weekend terkenal di Bangkok yaitu Chatuchak Weekend Market. Untuk menuju ke pasar ini, kami perlu menaiki BTS (Bangkok Mass Transit System). Kami berkonsultasi terlebih dahulu kepada petugas BTS setempat. Sistemnya mirip MRT di Singapura, namun hanya paket yang ditawarkannya saja yang berbeda. BTS memiliki paket untuk turis yang dibuat berdasarkan jumlah trip dan valid untuk 7 hari. Bangkok memberi nama kartu tersebut "Rabbit card". Setelah berdiskusi selama beberapa menit, akhirnya kami memutuskan untuk membeli paket dengan 25 trip selama 7 hari karena kami memprediksikan akan sering menggunakan BTS untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Harga total yang dikeluarkan sekitar THB 3000 untuk 4 Rabbit card. Cukup mahal untuk low budget traveler, tapi kami tidak mempermasalahkannya. Toh, kami pun akan sering berpindah-pindah tempat dari tempat satu ke tempat lainnya.
Rabbit card.
Stasiun Surasak.

Setelah itu, kami langsung bergegas menuju tujuan dengan menggunakan kartu tersebut. Perjalanan dari stasiun terdekat (stasiun Surasak) menuju stasiun yang dekat dengan Chatuchak Weekend Market (stasiun Mo Chit) memakan waktu sekitar 15 menit. Begitu sampai di stasiun Mo Chit, kami tinggal berjalan kaki beberapa puluh meter untuk mencapai Chatuchak. Keramaian pun terlihat semenjak kami turun dari BTS. Banyak sekali turis yang berlalu-lalang di stasiun dan sekitarnya. Suasana khas pasar tradisional menandakan bahwa kami sudah sampai di tempat tujuan. Berbagai macam street food terlihat di tempat ini dan berhasil mencuri perhatian kami. Mata kami tidak bisa lepas dari jajanan tersebut. Kami membeli daging ayam yang ditusuk seperti sate dan juga sosis tusuk (mungkin makanan seperti ini bisa ditemukan dimana-mana, tapi entah kenapa jajanan seperti ini sangat menggiurkan di Bangkok) dengan harga hanya THB 10!!! WOW!! Cukup kaget ada yang menjual daging ayam, sapi, ikan, maupun babi dengan harga segitu. Selain itu, kami pun membeli spring roll atau di Indonesia terkenal dengan lumpia kering. Banyak sekali street food yang menarik perhatian kami. Bangkok memang terkenal dengan street food.

Tidak lama kemudian, kami memutuskan untuk makan siang di pasar ini. Kami memilih makan di pinggir jalan agar dapat aspek authentic-nya. Kami memesan Pad Thai, Ayam goreng 1 ekor, dan juga Mango Sticky Rice. Kami berekspetasi sangat tinggi terutama untuk Pad Thai dan Mango Sticky Rice karena memang 2 makanan tersebut adalah salah satu makanan Thailand yang paling terkenal. Setelah menunggu sekitar 10 menit, makanan pun datang. Kami dengan tidak sabar langsung mencoba semua makanan yang tersedia. Setelah mencoba, kami agak kecewa karena Pad Thai yang disajikan terasa hambar. Kami tidak tahu rasa asli Pad Thai (rasa asli Pad Thai di Thailand) karena itu kami tidak protes. Setelah 30 menit, makanan yang tersedia pun habis karena walaupun kurang enak tapi kami sangat lapar. Kami meminta bill tagihan. Begitu bill datang, kami sangat terkejut karena tagihannya membengkak. Harga total makan siang kami sekitar THB 650 atau sekitar IDR 250 ribu. Dengan makanan yang kurang enak serta di pinggir jalan, harga tersebut sudah termasuk kategori terlalu mahal. Kami pun meminta penjelasan harganya satu persatu. Si penjual pun menjelaskannya dengan detail. Memang dari awal, kami sudah salah karena tidak menanyakan harganya terlebih dahulu. Kami pun membayarnya dengan berat hati. Kami merasa terptipu, tapi yasudahlah. Namanya juga pengalaman di negara orang. Nikmati saja.
Berpose di depan Chatuchak Weekend Market.
Untuk melupakan kejadian kemahalan makan, kami langsung menuju ke daerah utama pasar Chatuchak. Kami belanja pakaian, makanan kering untuk oleh-oleh, dan lainnya. Harganya pun cukup murah asalkan pandai memilih. Waktu yang kami habiskan disana mencapai hampir 3 atau 4 jam. Cuaca yang panas dengan matahari yang terik membuat kami merasa capek dan berhenti berbelanja. Sesaat sebelum perjalanan pulang menuju stasiun, saya membeli durian monthong karena saya memang pecinta durian dan penasaran dengan durian disini. Harga durian yang sudah dibuka hampir sama dengan harga durian di pulau Jawa. 3 atau 4 line buah durian besar sekitar THB 300 atau sekitar IDR 120 ribuan. Sekali-kali boleh lah memanjakan diri di negeri orang. Hehehe. Kami semua pun setuju untuk menyantap durian terlebih dahulu di Chatuchak Park. Duriannya cukup lezat, bijinya pun sangat kecil, dan buahnya sangat banyak. Tidak ada lagi yang spesial selain itu semua.
Durian party!!
Setelah 30 menit kami menghabiskan durian, kami akhirnya bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya yaitu mall Platinum yang konon katanya, harganya pun murah-murah terutama untuk urusan fashion. Kami harus turun di stasiun Siam atau Chit Lom yang dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar beberapa ratus meter. Pertama kami sampai di stasiun tersebut, kami mengandalkan Google Maps dari kartu sim yang telah kami beli sebelumnya. Kami mengikuti apa yang maps arahkan. Setelah hampir 15 menit berjalan kaki, kami akhirnya menyadari bahwa GPS di dalam map tersebut tidak jalan. Sangat mengecewakan karena kami membeli kartu sim tersebut memang untuk menavigasi apabila kami nyasar di suatu tempat. Akhirnya kami pun menggunakan cara manual yaitu bertanya kepada orang-orang sekitar. Ternyata selama hampir 15 menit kami menghabiskan waktu untuk berjalan kaki tadi, kami berjalan ke arah yang salah. Kaki kami sudah tidak bisa membohongi kami lagi. Kami sudah cukup lelah untuk perjalanan hari tersebut. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju mall fashion Platinum.

Setelah istirahat beberapa menit, kami melawan rasa capek untuk melanjutkan perjalanan. Berjalan kaki sekitar 20 menit, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Mall Platinum menurut saya mirip dengan BTC di Bandung atau Mangga Dua Square di Jakarta Utara. Memang harganya tidak semurah di Chatuchak tapi sudah cukup murah untuk ukuran mall. Kami akhirnya survey harga dan belanja walaupun sedikit. Hahaha.. Memang tujuan dari hari pertama kami di Bangkok ini adalah belanja. Didekat mall Platinum yang sedang kami singgahi ternyata terdapat night market. Lagi-lagi, kami kalap belanja lagi. LOL.

Hari pertama di Bangkok pun telah usai. Kami pulang dengan beberapa kantung belanjaan kami. Tidak ada kata menyesal untuk hari pertama ini walaupun ada beberapa kejadian mengecewakan. Namun semua itu untuk pengalaman kami karena segala sesuatu yang baru adalah untuk pembelajaran kedepannya, untuk modal dalam memilih sebuah keputusan. Kami senang walau kaki sudah pegal-pegal. Satu kalimat yang ada di benak kami saat itu, "Tidak sabar rasanya ingin menikmati tempat wisata esok hari". Well then, see you on day 2!!!

Thursday, May 19, 2016

LFL: Diskriminasi penerimaan karyawan (?)

"Don't judge a book by its cover" part.1


Di jaman sekarang ini, apalagi di kota-kota besar di Indonesia, peribahasa di atas sepertinya hanya menjadi salah satu hiasan kumpulan kalimat peribahasa yang ada di dunia ini. Bagaimana tidak, dalam screening penerimaan karyawan di awal saja, sebagian besar perusahaan lebih memilih lulusan universitas ternama (seperti ITB, UNPAD, UI, dan lainnya). Saya tidak mengatakan bahwa lulusan universitas ternama tidak memiliki kualitas yang mumpuni. Saya akui sebagian besar tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia adalah lulusan universitas ternama. Masalahnya adalah dengan adanya image bahwa lulusan universitas ternama pasti lebih unggul daripada universitas yang kurang dikenal, sebagian besar perusahaan (khususnya perusahaan besar) lebih memprioritaskan lulusan universitas ternama dibandingkan universitas lainnya. Pertanyaannya adalah "Apa memang benar bahwa lulusan universitas ternama pasti lebih baik dibandingkan lulusan universitas lainnya?". Saya berani menjawab belum tentu. Kualifikasi seseorang tidak hanya ditentukan dari dimana dia mencari ilmu, tapi juga dari kepribadian atau sering juga disebut soft-skill dari orang tersebut. Kepribadian seseorang dalam mencari ilmu untuk sukses (dalam hal apapun), menjadi salah satu faktor yang tidak kalah penting. Lagipula banyak cara untuk masuk ke universitas ternama as we all know lah ya hahaha... Jadi masuk universitas ternama tidak menjamin akan memiliki kualitas lebih bagus dibandingkan dengan belajar di universitas yang kurang dikenal.


Walaupun begitu, sangat amat disayangkan, sebagian besar perusahaan di Indonesia ataupun mungkin ada juga perusahaan luar negeri yang langsung memberikan tembok/garis merah di tahap awal penerimaan karyawan. Contohnya dengan memberikan persyaratan "diutamakan lulusan universitas ternama" ataupun persyaratan tidak tertulis yang hanya mempertimbangkan lulusan universitas ternama saja. Walaupun mungkin masih ada kesempatan untuk lulusan universitas lainnya, tapi apakah kesempatan itu sama besarnya dengan para lulusan universitas ternama (prioritas)? Mungkin juga ada yang berkata pasti bisa apabila bekerja keras dan bisa menunjukan bahwa memang layak untuk diterima di perusahaan. Saya tanya, bagaimana kita bisa menunjukan kalo kita layak apabila dari pemilihan CV untuk ke tahap tes ataupun wawancara saja sudah dipandang sebelah mata/tidak dipertimbangkan untuk tahap selanjutnya (atau mungkin ada titipan/slot untuk si A,B,C HAHAHA)? Saya tahu perusahaan tidak peduli itu. Tapi apakah mereka menyadari dengan begitu, probabilitas mereka untuk mendapatkan karyawan dengan potensi besar untuk berkontribusi terhadap perusahaan pun semakin kecil?

Mungkin itu hal yang baik di satu sisi karena perusahaan dapat mengevaluasi lebih sedikit kandidat, tapi di sisi lain hal tersebut menjadi hambatan yang cukup besar. Kesempatan para lulusan universitas kurang dikenal lenyap. Mereka bahkan tidak diberi kesempatan untuk menunjukan kualitas mereka. "Apakah lulusan universitas kurang dikenal tidak bisa untuk lebih baik dari lulusan universitas ternama? Apakah para HRD bisa menjamin bahwa lulusan universitas kurang dikenal kualitasnya lebih rendah daripada lulusan universitas ternama?". Bisa jadi salah satu calon karyawan terbaik tidak akan pernah menunjukan taringnya. Bisa jadi potensi besar salah satu calon karyawan akan tersia-siakan. So, my advice is if you want to get the best potential employees for your company, fix up your enrolment system first. Don't discriminate from which university they are. Evaluate from their quality.


Wednesday, April 27, 2016

LFL: Kenyataan Paling Menyedihkan di Dunia.

"Padi menguning semakin berisi, semakin merunduk"

Teman-teman pasti sudah pernah mendengar peribahasa yang satu ini. Peribahasa ini artinya semakin tinggi ilmu seseorang, sikapnya pun harus semakin rendah hati. Saya pribadi mengartikannya lebih umum, semakin tinggi jabatan, kekayaan (secara ekonomi ataupun lainnya), ilmu, umur, dan lainnya, maka harus semakin rendah hati juga orang tersebut. Contohnya, semakin tua umur seseorang, maka harus semakin bijak/tidak sombong/tidak angkuh. Hal tersebut berlaku kepada jabatan, kekayaan, ilmu, dan lainnya.

Teori pada kenyataannya tidak selalu berjalan sesuai harapan. Banyak orang di dunia ini, terutama yang saya temui, masih tidak sesuai dengan peribahasa tersebut. Saya akan membagi satu cerita pendek yang mungkin dapat dijadikan contoh.

Cerita ini berawal dari teman saya (sebut saja A) yang mencari sebuah kos-kosan di daerah Mampang Prapatan IV, Jakarta Selatan karena lokasi yang dekat dengan tempat kerjanya di daerah Jl. Tendean. Singkat cerita, ketika sudah survey beberapa kosan, A tertarik kepada satu kosan. Kosan tersebut adalah kosan dengan inisial "MI". Sebuah rumah kosan yang cukup besar terdiri dari 3 lantai dan memiliki halaman parkir yang cukup luas. Ketertarikan A kepada kosan tersebut tidak lain karena kamarnya luas, bisa dihuni oleh 2 orang (patungan), fasilitas lengkap, dan memiliki lobi yang luas sehingga ibu kosannya pun mempersilahkan apabila lobinya ingin dipakai. Dikarenakan A memiliki hobi dance, dia langsung menanyakan apakah lobinya bisa dipakai untuk latihan dance. Ibu kosan pun mempersilahkan dengan baik hati.

Setelah berjalan beberapa bulan, A pun dengan senang hati menggunakan fasilitas lobi yang disediakan. Hingga akhirnya pada satu malam, penjaga kosan menghampiri si A dan menegurnya karena seringkali lobi tidak dibereskan. A pun heran karena sebelumnya tidak pernah ditegur dan baru menyadari bahwa tindakannya salah. Dengan sigap A dan teman-temannya pun langsung membereskan lobi dan tidak pernah mengulanginya lagi. Masalah pun selesai.

Selain dance, A pun memiliki hobi belanja online. Barang kiriman di kosan tersebut biasanya dijejerkan di meja penjaga kosan yang terletak di lobi. Seringkali, A pun mengecek paket-paket tersebut untuk mengetahui apakah ada pake milik dia atau tidak. Suatu hari ketika A mengecek paket-paket tersebut, sang ibu kos berbicara kepada A dengan nada sinis, "Bukan paket kamu. Belum ada paketnya." Seketika A pun merasa kesinisan tersebut pertanda ada yang tidak beres karena ini bukan pertama kalinya A merasa diperlakukan seperti itu. A pun komplain kepada penjaga kos tentang sikap ibu kos (Pada saat laporan pembayaran kosan karena ditransfer melalui ATM). A pun meminta tolong agar ibu kos bersikap ramah dan apabila ada masalah, bisa didiskusikan dengan baik-baik. Penjaga kosan pun menampung keluhan tersebut dan menyampaikannya pada hari berikutnya.

Hari berikutnya, A memiliki janji untuk latihan dance dan meminta saya untuk merapikan gerakan grup miliknya. Teman-teman A pun sudah datang sebelum A pulang dan menunggu di lobi seperti biasanya. Ketika A pulang, ibu kos memanggilnya dengan alasan ingin mengobrol. A pun menyetujuinya dan duduk berdua berhadapan. Ibu kos bertanya dengan nada agak tinggi apa maksud A komplain ke penjaga kosan tentang sikapnya. A pun menjelaskan dengan tenang bahwa sikap seperti itu membuat penghuni tidak nyaman dan lainnya. A juga menjelaskan jika dia pasti akan mematuhi peraturan kosan dan rela apabila ditegur tapi dengan cara yang baik. Akan tetapi, ibu kos tersebut dengan arogan dan menyentak berkata, "INI RUMAH, RUMAH SAYA, UANG, UANG SAYA, JADI TERSERAH SAYA. KALO GA MAU, PERGI DARI RUMAH INI!!". Seketika A pun tersulut emosinya dan berkata, "KALO GINI IBU GA BISA DIAJAK DISKUSI DONG?!". Ibu kos pun makin menyentak dan emosi, "KAMU BERANI?! KAMU ITU NUMPANG DISINI JADI HARUS IKUTIN ATURAN SAYA!!". Singkat cerita, ibu kosan juga mengusir teman-teman A yang sedang menunggu di lobi. A pun protes karena teman-temannya tidak tahu apa-apa. Ibu kosan tidak peduli dan menyentak mereka semua untuk pergi dari rumah itu. Mereka terpaksa keluar dari rumah tersebut menuju parkiran. Mereka berdiskusi tentang langkah apa yang akan diambil selanjutnya. Tidak lama kemudian (singkat cerita setelah saya datang), ibu kos yang tadinya di dalam rumah, keluar menghampiri dan mengusir kami (lagi). Situasi saat itu bisa dibilang seperti mengusir hewan. (Singkat cerita lagi) Pada akhirnya, A pun sudah muak dengan sikap ibu kos tersebut. Dia bilang akan pergi sekarang juga dengan syarat kembalikan uang yang baru dibayarkan pada malam sebelumnya. Setelah mendengar pernyataan tersebut, ibu kos pun diam dan pergi. Asumsi kita adalah ibu kos tidak mau mengembalikan uangnya, hanya ingin kami pergi. Ternyata memang ada beberapa kerabat dari teman yang pernah tinggal disitu dan pindah lagi (tidak lama); dan juga beberapa tukang ojek yang menanyakan A bahwa kenapa mau ngekos di kosan tersebut. Orang luar ternyata sudah banyak yang melihat negatif kosan tersebut, padahal kami sama sekali tidak berpikir seperti itu sebelumnya.

Note: Cerita tersebut dari pengalaman pribadi/kenyataan, tidak ada rekayasa. Hanya namanya saja disamarkan.

Dari cerita tersebut, sudah jelas sangat menyimpang dari peribahasa di atas. Ibu kos tersebut lebih tua (umurnya sekitar 30-an akhir/40-an) dan merasa memiliki harta yaitu uang dan rumah kos yang mewah akan tetapi sikapnya arogan dan sombong kepada A dan juga teman-temannya. Padahal A adalah penghuni kosan/pelanggan/customer yang selalu membayar setiap bulannya.

Saya sendiri sampai berpikir, "Mungkin bertambahnya umur tidak berbanding lurus dengan bertambahnya ilmu. Mungkin bertambahnya umur tidak berbanding lurus dengan bertambahnya kerendahan hati seseorang. Mungkin bertambah tingginya kekayaan seseorang (secara ekonomi maupun lainnya) tidak berbanding lurus dengan bertambahnya ilmu seseorang. Dan mungkin juga bertambah tingginya kekayaan seseorang (secara ekonomi maupun lainnya) tidak berbanding lurus dengan bertambahnya kerendahan hati seseorang". Banyak sekali contoh lain di luar sana (tidak men-generalisasi), yang menggambarkan kenyataan tidak menyenangkan ini. Apakah kalian memiliki pengalaman pribadi yang serupa (berhubungan dengan menyimpangnya peribahasa di atas)? Silakan share di bawah.

Terima kasih. :)

Tuesday, March 29, 2016

AOE: Nostalgia Camping Sederhana

Camping adalah salah satu kegiatan liburan yang banyak digemari oleh masyarakat, terutama yang menyukai alam. Camping menjadi kegiatan rutin saya dan teman-teman saya dari Subang - yang disebut COTAS - pada periode tahun 2010-an. Istilah camping dalam kamus kami adalah kegiatan menginap semalam di alam yang dilengkapi oleh makan makanan yang kami buat sendiri di api yang juga kami buat sendiri (sejenis api unggun kecil), mengobrol bersama, dan hal-hal lain yang sering disebut hanya menyusahkan diri sendiri oleh orang lain. Kegiatan rutin ini terhenti semenjak kami sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Pada liburan panjang paskah, kami memutuskan untuk bernostalgia camping. Awalnya kami berencana ber-camping di Capolaga, Subang; akan tetapi dengan situasi yang kurang mendukung - merencanakan dengan mendadak - kami terpaksa memindahkan lokasinya. Kebun yang masih terlihat seperti hutan di daerah Tanjungwangi, Subang; milik salah satu dari kami terpilih menjadi tempat untuk ber-camping. Kebun tersebut memiliki kolam ikan yang luas seperti sungai. Kami berangkat menuju tempat tersebut sekitar pukul setengah 5 sore dari Subang kota dan sampai sekitar pukul 5 an. Kamipun langsung membagi tugas masing-masing karena hari sudah mulai gelap. Teman-teman memiliki tugas membuat api unggun mini untuk memasak, membersihkan tempat yang akan digunakan untuk makan malam, dan membuat racikan sambal dan bumbu lainnya. Saya sendiri memilih untuk memancing karena sudah lama sekali saya tidak melakukan hal tersebut. Saya merasa senang bisa melakukan hal yang termasuk baru/jarang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai tidak terasa, saya sudah mendapatkan 3 ikan bawal sedang. Sayangnya, saya harus menghentikan kegiatan memancing saya karena saya sudah tidak dapat melihat pelampung dari alat pancing yang saya gunakan sewaktu malam hari (penerangan disana juga sangat minim hanya ada beberapa lampu yang memang sudah terpasang dan satu senter yang digunakan oleh teman saya).

Sekitar pukul setengah 7 malam, kami semua fokus ke pembuatan makanan dan memasak air (lebih jelasnya air sungai karena air dari PDAM tidak nyala sewaktu itu). Sebenarnya saya agak ragu untuk meminum air sungai walaupun sudah dimasak di atas suhu +-100 derajat celcius, tapi saya pun memberanikan diri karena tidak ada air yang bisa kami minum lagi selain air sungai tersebut. Di saat teman yang lain memasak nasi dan air, saya sendiri memiliki tugas untuk membersihkan ikan agar siap untuk dimasak. Sekitar 15 menit kemudian, makanan sudah siap untuk disantap dan kami pun menikmati hasil buatan kami sendiri sembari bercerita kepada satu sama lainnya. Sesudah menyantap makanan pun kami mengisi kegiatan kami dengan menonton film (kebetulan ada yang bawa laptop) dan besok subuh sekitar pukul 5, saya harus kembali ke rumah karena memiliki janji dengan keluarga.

Walaupun tidak dapat disebut camping secara utuh, akan tetapi kami merasa cukup puas dengan apa yang kami lakukan di situasi yang kami miliki saat itu. Kami menyadari hal yang kami lakukan itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kegiatan camping yang sebenarnya. Hal yang kami cari adalah bernostalgia bersama teman lama di alam terbuka dengan atmosfer yang sudah lama tidak kami rasakan dan kami mendapatkannya pada malam tersebut. Semoga suatu saat, kami dapat melakukannya lagi pada situasi dan persiapan yang lebih baik. See Ya !!

Lumayan dapat 3 ikan bawal untuk pemancing amatir.
Denry sedang membuat api unggun (mini)
Nasi Liwet sedang diproses.
Malam ketika kami mengadakan acara camping tersebut adalah malam bulan purnama.
Kegiatan sebelum tidur. wkwk

Thursday, March 10, 2016

AOE: Gerhana Matahari 9 Maret 2016

Menulis fenomena (terutama fenomena alam) dan momennya (pastinya) adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan, terlebih lagi jika fenomenanya adalah fenomena yang langka. Pada tanggal 9 maret 2016, di Indonesia (khususnya) telah terjadi gerhana matahari total. Perlu diketahui bahwa gerhana matahari itu terjadi setiap 18 bulan sekali (menurut Avivah Yamani, M.Sc - Astronomy Communicator dari LangitSelatan.com pada seminar 'Space Series: 3 minutes of darkness over Indonesia' yang diadakan di @america, Pasific Place Mall, Jakarta pada tanggal 26 februari 2016) dan pada titik yang sama, gerhana matahari memiliki siklus 200/375 tahun sekali (ada perbedaan pendapat, menurut Prof. Dr. Bambang Hidayat - ahli astronomi senior dalam seminar yang sama - siklus tersebut terjadi 200 tahun sekali. Menurut infoastronomy.org, gerhana matahari terjadi pada lokasi yang sama sekitar kurang dari 375 tahun). Jadi bisa dipastikan bahwa gerhana matahari yang terjadi di Indonesia (terutama) ini adalah fenomena yang langka walaupun tempat saya berada (pulau Jawa) tidak terkena gerhana matahari total, hanya sebagian (hanya beberapa titik di Indonesia bagian utara yang terkena gerhana matahari total seperti Palangkaraya, Palu, Ternate, dan lainnya).

Dalam rangka menyaksikan gerhana matahari, saya pergi menuju Observatorium Bosscha di Lembang bersama teman saya. Sewaktu kami sampai di jalan masuk Bosscha, keramaian kendaraan langsung terlihat. Masyarakat dari berbagai kalangan (anak kecil, remaja, dewasa, dan lanjut usia) pun ingin sekali menyaksikan fenomena gerhana matahari tersebut walaupun terjadi pada pagi hari (mulai: 06.19, puncak: 07.28, akhir: 08.28) dan tidak total (hanya sebagian). Beberapa mobil media televisi pun terlihat parkir di sekitar Observatorium Bosscha. Terlihat juga antrian panjang menuju loket pembelian kacamata khusus gerhana. Kacamata khusus gerhana tersebut dijual Rp.25.000/kacamata. Kami tentu saja membelinya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi. Perlu diketahui (lagi), mitos yang dulu berkembang (tidak boleh melihat gerhana Matahari), sudah berhasil dijelaskan secara ilmiah oleh beberapa institusi dan ahli. Gerhana matahari total memiliki beberapa fase yaitu fase 1: mulai terjadi penutupan, fase 2: penutupan total, fase 3: mulai terjadi pembukaan, fase 4: terbuka sepenuhnya. Fase yang sangat berbahaya apabila dilihat oleh mata telanjang adalah fase ketiga karena pada waktu fase kedua, langit menjadi gelap dan pupil mata kita membesar, jalur penerimaan cahaya membesar karena gelap. Begitu masuk ke fase ketiga dimana bulan mulai bergeser menjauhi posisi sinar matahari menyorot ke bumi, pupil yang posisinya masih membesar tadi akan menerima sinar matahari yang sangat terang (menurut Avivah Yamani, M.Sc cahaya matahari tersebut setara 7500 watt/cm2) dan hal tersebut bisa menyebabkan kornea terbakar dan buta. Disinilah kegunaan kacamata khusus gerhana tersebut bekerja. Benda tersebut menyaring sinar matahari minimal 70 persen. Alhasil yang hanya terlihat pada kacamata tersebut adalah matahari tanpa sinar (matahari berwarna oranye).

Dari sisi kepercayaan yang saya anut, setiap terjadi gerhana (matahari atau bulan), sebaiknya para pemeluknya melakukan shalat gerhana karena fenomena tersebut dipercaya sebagai tanda akan datangnya azab dari Tuhan, bahkan dipercaya sebagai tanda akan datangnya hari kiamat. Maka dari itu, para pemeluknya dianjurkan untuk berdoa meminta keselamatan dan memohon ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari sisi kepercayaan lain, gerhana matahari adalah sebuah kejadian Batara Kala yang menelan matahari karena dendam terhadap dewa matahari. Batara Kala dikenal sebagai putra dari Dewa Siwa, ia tidak tinggal di kayangan karena bentuknya yang menyeramkan, Batara Kala lahir dari air mani Dewa Siwa yang jatuh menetes ke laut, saat Dewa Siwa tengah berjalan di pantai dan melihat betis Dewi Uma (Source: http://indonesiana.merahputih.com/budaya/2016/03/05/misteri-gerhana-matahari-dan-raksasa-batara-kala/38957/).

Kesimpulan dari semua hal tersebut adalah kita sebagai manusia agar selalu bersyukur atas apa yang kita dapat (salah satunya dapat melihat fenomena yang langka). Jangan sampai menjadi lupa diri dan sombong. Kita ini hanya sebagian kecil dari ciptaan Tuhan. Banyak hal di luar sana yang mungkin masih belum bisa dimengerti oleh manusia.

👍👌

Gerhana matahari 9 maret 2016 dilihat dari Bandung dan diambil dengan menggunakan smartphone.
Gerhana matahari diambil tanpa menggunakan solar filter.
Silhouette
Keramaian di Observatorium Bosscha

Monday, February 29, 2016

AOE: Mengunjungi Teman di Sodong Hilir

Perjalanan menuju Sodong Hilir

Sibuknya kuliah membuat saya memiliki hutang janji kepada teman ataupun keluarga untuk mengunjungi mereka. Salah satunya adalah teman saya yang bernama Yosep. Saya memiliki janji untuk mengunjungi dia di kampung halamannya yaitu Sodong Hilir. Sodong hilir terletak di sebelah timur Kabupaten Tasikmalaya. Menurut Google Maps, jarak dari kota Bandung menuju Sodong Hilir adalah kurang lebih 150 km dan dapat ditempuh dengan waktu sekitar 4 jam.

Ketika saya berhasil lulus dari bangku perkuliahan, saya langsung memutuskan untuk menepati janji saya kepada Yosep tersebut. Saya memutuskan untuk berangkat sendiri sekitar jam 3/setengah 4 sore (setelah Ashar) dengan menggunakan motor matik dan juga bermodalkan Google Maps sebagai alat navigasi. Persiapan diri akan hal yang akan terjadi di luar perkiraan pun sudah disiapkan (secara mental. Hahaha). Kota Bandung yang dulu jarang terjadi macet pun sekarang macet dan hal tersebut menjadi hambatan pertama yang saya harus hadapi dalam perjalanan ini. Saya membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam untuk keluar dari kabupaten Bandung (dari Cicadas).

Garut menjadi wilayah kedua yang saya lewati (setelah kabupaten Bandung) dalam perjalanan ini. Saya sampai di kota ini sekitar pukul 18 (waktu Maghrib). Di kota ini sama sekali tidak ada hambatan kecuali cuaca. Hujan turun deras secara tiba-tiba dan membuat saya untuk berhenti sejenak. Sewaktu itu, saya tidak memiliki jas hujan yang layak (pernah punya jas hujan 2 kali tapi keduanya robek entah kenapa.) dan hanya memiliki jas hujan yang terbuat dari kresek hijau bekas touring ke situs megalitikum gunung Padang beberapa hari sebelumnya. Dengan terpaksa, saya pun menggunakan jas hujan yang sangat istimewa tersebut. Sesampai jalan Garut-Tasikmalaya, hujan pun reda, bahkan ketika saya melihat jalannya, hampir seperti tidak pernah hujan disini. Walaupun begitu, saya enggan untuk melepaskan jas hujan istimewa ini karena saya pikir mungkin nanti akan hujan kembali.

Perjalanan pun dilanjutkan, waktu menunjukan pukul setengah 7 malam dan saya pun masih berada di jalan Gaut-Tasikmalaya. Benar saja, hujan pun turun kembali. Untung jas hujan ga gw lepas. Kondisi jalan tersebut cukup bagus dengan pembatas jalan yang menandai akan adanya jurang di satu sisi dan juga menandai adanya gunung di sisi lainnya, akan tetapi kondisi penerangan jalan tersebut kurang baik. Saya memperlambat laju kendaraan saya karena saya khawatir hal yang tidak diinginkan terjadi melihat kondisi jalan yang licin dan gelap; dan kadang ada truk besar yang lewat. Sekitar jam 7 malam, saya memutuskan untuk berhenti di mesjid untuk shalat dan beristirahat. Saya pun tidak lupa untuk memberi tahu Yosep bahwa saya masih dalam perjalanan menuju rumahnya.

Sekitar pukul 8 malam, saya memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan ini. Saya berpikir bahwa perjalanan (dengan menggunakan motor sendirian) malam atau terlalu malam lebih besar risikonya dibandingkan dengan perjalanan siang hari. Saya pun waspada akan adanya begal karena jalan yang saya lewati sangatlah sepi dan minim pencahayaan. Dengan kecepatan yang lumayan cepat (ga terlalu cepet juga sih wkwkwk), saya pun melesat.

Ada satu hal yang tidak bisa saya lupakan. Dikarenakan di dalam perjalanan tersebut saya percaya kepada Google Maps sebagai penunjuk jalan, jalan berbatu (tidak diaspal) pun saya terobos dan hampir tanjakan tanah yang mungkin hanya bisa dilalui oleh motor trail pun hampir saya terobos karena Google Maps (ketololan wkwkwkwk). Saya menyadari bahwa saya melalui jalan yang salah ketika saya menggunakan alat navigasi kedua yaitu BERTANYA KEPADA PENDUDUK SEKITAR. Saya pun selamat (karena sangat sepi/jarang ada orang dan gelap/sangat minim penerangan) kembali kepada jalan yang benar wkwkwkwkwk.

Setelah saya kembali ke jalan yang benar, saya pun merasa sedikit lega karena mungkin si oom Google Mapsnya sudah bisa mendapatkan sinyal GPS kembali (jadi gw dibodohi sama si oom). Perjalanan pun dilanjutkan dengan melewati jalanan beraspal dan tidak jarang pula melewati jalanan berbatu dan jalanan rusak. Cuaca yang saya rasakan ketika perjalanan itu adalah dingin berkabut. Jarak pandang mata saya hanya sejauh lampu jauh motor menyorot. Tidak lama kemudian sekitar pukul 9/setengah 10 malam, saya pun berhasil sampai di rumah Yosep.

Bersantai di Sodong Hilir dan Pantai Cipatujah

Hari berikutnya, saya diajak oleh Yosep ke pantai Cipatujah yang ditempuh sekitar 1 jam dari Sodong hilir. Di pantai tersebut saya melihat para nelayan yang baru mendapatkan ikan dan masuk ke dalam proses pelelangan. Saya baru pertama kali melihat proses pelelangan hasil tangkapan laut. Disana saya bertemu dengan paman dari Yosep yang kerap mengikuti proses lelang. Kami pun diberi satu ikan pari sedang (tadinya mau dikasih banyak ikan lainnya tapi nunggunya lama).
Perahu-perahu nelayan di pantai Cipatujah

Pelelangan hasil laut
Ikan pari hasil dari pelelangan
Bakar ikan sendiri
Makan juga sendiri di pantai (ga deng ada yang motoin wkwkwkwk)
Berbeda dengan Cipatujah dimana cuacanya panas karena berada di pantai, Sodong hilir memiliki cuaca yang dingin karena berada di pegunungan. Kita juga bisa melihat lembah yang diselimuti oleh kabut (kayak di pilem2). Disini saya banyak menghabiskan waktu dengan berada di rumah Yosep dengan mengobrol, bersantai, melihat kebun dan balong (bahasa sunda dari kolam) di belakang rumah, dan lainnya. Saya lebih kepada menikmati suasana rumah dan budaya (bukan berarti yang heboh-heboh, tapi kebiasaan orang Sodong hilir dalam menjalani hidupnya) di Sodong hilir. Internet pun secara wireless sudah masuk ke daerah sini tapi masih sedikit yang memanfaatkannya. Sebagian besar penduduk disini memiliki kebun sendiri ataupun sawah sendiri. Makanya kalo disini makanan pasti ada karena langsung dapet dari alam. Saya senang berada disana karena kehidupan mereka ga neko-neko alias sederhana tapi bahagia. Sayangnya, saya hanya bisa tinggal 3 hari saja disana karena masih ada janji lain yang harus ditepati. Semoga kedepannya bisa kesana lagi dan eksplor lebih jauh tentang tempat dan juga budaya sekitar. Aamiin.
Momotoran!!
Pemandangan dari Sodong Hilir
Pemandangan di tengah perjalanan menuju Cipatujah. Salah satu alat pancing yang unik yang ingin saya coba.
Pemandangan di Salawi sewaktu perjalanan pulang menuju Bandung.

Friday, October 2, 2015

AOE: Vacation to Blue Mountain.

Do you like nature? For me, nature is a gift from God. Nature is a real deal if you want to see a beauty of the world. Nature is a place when you want to release your stress. Nature is the best destination of traveling. I love nature very much.

I also went visit to nature in Sydney. It was Blue mountain. I am sure that you've heard it before. The kilometers-square area of vacation-land with its world-famous masterpiece, the Three Sisters. You have to take a train from the City to Katoomba. It takes approximately an hour.  
Katoomba train station.
After you get out of the train station, you will find Blue mountain office. There is an officer that you can ask about the land. You'll be charged a few dollars (AUD 35) for the bus service around the land, but if you want a cheaper price, you can find an ordinary bus service (but it's not stopped in every spots of the land).
Blue mountain bus service.
You can choose the spot you like or you can choose them all. I prefer to choose the best first instead of the easier first.
Yes, you have to walk in most of the spots.
Yo, relax for a while. :D
Scenery from Queen Victoria.

Most of Blue mountain fields can be done with hiking as you can see above. You cannot use any transportation but walking. Don't forget to bring an umbrella because sometime the weather could turn to rain drastically.


Above are the pictures from Wentworth falls.

Beside the nature spots, Blue mountain also has another interesting places to visit. One of those is Chocolate house. You can buy a handmade chocolate art here for a gift. You can taste a free chocolate as well.



You also can visit Aboriginal museum. Below is the sneak peek of the museum. They sell Aborigin authentic weapon in a present form (of course it's not real, just as a symbol).

And this is the world-famous masterpiece I told you, the Three Sisters! The commonly told legend of it is that three sisters named Meehni', Wimlah', and Gunnedoo' lived in the Jamison Valley as members of the Katoomba tribe. They fell in love with three men from a neighbouring tribe (the Nepean tribe), but marriage was forbidden by tribal law. The brothers were not happy to accept this law and so decided to use force to capture the three sisters. A major tribal battle ensued, and the three sisters were turned to stone by an elder to protect them, but he was killed in the fighting and no one else could turn them back. (Wikipedia.org)

You can visit other spots like we did. Here are some pictures that may be can give you a description about the Blue mountain. I hope it is useful for you who want to visit Blue mountain. Happy holiday!