Thursday, March 10, 2016

AOE: Gerhana Matahari 9 Maret 2016

Menulis fenomena (terutama fenomena alam) dan momennya (pastinya) adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan, terlebih lagi jika fenomenanya adalah fenomena yang langka. Pada tanggal 9 maret 2016, di Indonesia (khususnya) telah terjadi gerhana matahari total. Perlu diketahui bahwa gerhana matahari itu terjadi setiap 18 bulan sekali (menurut Avivah Yamani, M.Sc - Astronomy Communicator dari LangitSelatan.com pada seminar 'Space Series: 3 minutes of darkness over Indonesia' yang diadakan di @america, Pasific Place Mall, Jakarta pada tanggal 26 februari 2016) dan pada titik yang sama, gerhana matahari memiliki siklus 200/375 tahun sekali (ada perbedaan pendapat, menurut Prof. Dr. Bambang Hidayat - ahli astronomi senior dalam seminar yang sama - siklus tersebut terjadi 200 tahun sekali. Menurut infoastronomy.org, gerhana matahari terjadi pada lokasi yang sama sekitar kurang dari 375 tahun). Jadi bisa dipastikan bahwa gerhana matahari yang terjadi di Indonesia (terutama) ini adalah fenomena yang langka walaupun tempat saya berada (pulau Jawa) tidak terkena gerhana matahari total, hanya sebagian (hanya beberapa titik di Indonesia bagian utara yang terkena gerhana matahari total seperti Palangkaraya, Palu, Ternate, dan lainnya).

Dalam rangka menyaksikan gerhana matahari, saya pergi menuju Observatorium Bosscha di Lembang bersama teman saya. Sewaktu kami sampai di jalan masuk Bosscha, keramaian kendaraan langsung terlihat. Masyarakat dari berbagai kalangan (anak kecil, remaja, dewasa, dan lanjut usia) pun ingin sekali menyaksikan fenomena gerhana matahari tersebut walaupun terjadi pada pagi hari (mulai: 06.19, puncak: 07.28, akhir: 08.28) dan tidak total (hanya sebagian). Beberapa mobil media televisi pun terlihat parkir di sekitar Observatorium Bosscha. Terlihat juga antrian panjang menuju loket pembelian kacamata khusus gerhana. Kacamata khusus gerhana tersebut dijual Rp.25.000/kacamata. Kami tentu saja membelinya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi. Perlu diketahui (lagi), mitos yang dulu berkembang (tidak boleh melihat gerhana Matahari), sudah berhasil dijelaskan secara ilmiah oleh beberapa institusi dan ahli. Gerhana matahari total memiliki beberapa fase yaitu fase 1: mulai terjadi penutupan, fase 2: penutupan total, fase 3: mulai terjadi pembukaan, fase 4: terbuka sepenuhnya. Fase yang sangat berbahaya apabila dilihat oleh mata telanjang adalah fase ketiga karena pada waktu fase kedua, langit menjadi gelap dan pupil mata kita membesar, jalur penerimaan cahaya membesar karena gelap. Begitu masuk ke fase ketiga dimana bulan mulai bergeser menjauhi posisi sinar matahari menyorot ke bumi, pupil yang posisinya masih membesar tadi akan menerima sinar matahari yang sangat terang (menurut Avivah Yamani, M.Sc cahaya matahari tersebut setara 7500 watt/cm2) dan hal tersebut bisa menyebabkan kornea terbakar dan buta. Disinilah kegunaan kacamata khusus gerhana tersebut bekerja. Benda tersebut menyaring sinar matahari minimal 70 persen. Alhasil yang hanya terlihat pada kacamata tersebut adalah matahari tanpa sinar (matahari berwarna oranye).

Dari sisi kepercayaan yang saya anut, setiap terjadi gerhana (matahari atau bulan), sebaiknya para pemeluknya melakukan shalat gerhana karena fenomena tersebut dipercaya sebagai tanda akan datangnya azab dari Tuhan, bahkan dipercaya sebagai tanda akan datangnya hari kiamat. Maka dari itu, para pemeluknya dianjurkan untuk berdoa meminta keselamatan dan memohon ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari sisi kepercayaan lain, gerhana matahari adalah sebuah kejadian Batara Kala yang menelan matahari karena dendam terhadap dewa matahari. Batara Kala dikenal sebagai putra dari Dewa Siwa, ia tidak tinggal di kayangan karena bentuknya yang menyeramkan, Batara Kala lahir dari air mani Dewa Siwa yang jatuh menetes ke laut, saat Dewa Siwa tengah berjalan di pantai dan melihat betis Dewi Uma (Source: http://indonesiana.merahputih.com/budaya/2016/03/05/misteri-gerhana-matahari-dan-raksasa-batara-kala/38957/).

Kesimpulan dari semua hal tersebut adalah kita sebagai manusia agar selalu bersyukur atas apa yang kita dapat (salah satunya dapat melihat fenomena yang langka). Jangan sampai menjadi lupa diri dan sombong. Kita ini hanya sebagian kecil dari ciptaan Tuhan. Banyak hal di luar sana yang mungkin masih belum bisa dimengerti oleh manusia.

👍👌

Gerhana matahari 9 maret 2016 dilihat dari Bandung dan diambil dengan menggunakan smartphone.
Gerhana matahari diambil tanpa menggunakan solar filter.
Silhouette
Keramaian di Observatorium Bosscha

No comments:

Post a Comment