Showing posts with label Subang. Show all posts
Showing posts with label Subang. Show all posts

Tuesday, March 29, 2016

AOE: Nostalgia Camping Sederhana

Camping adalah salah satu kegiatan liburan yang banyak digemari oleh masyarakat, terutama yang menyukai alam. Camping menjadi kegiatan rutin saya dan teman-teman saya dari Subang - yang disebut COTAS - pada periode tahun 2010-an. Istilah camping dalam kamus kami adalah kegiatan menginap semalam di alam yang dilengkapi oleh makan makanan yang kami buat sendiri di api yang juga kami buat sendiri (sejenis api unggun kecil), mengobrol bersama, dan hal-hal lain yang sering disebut hanya menyusahkan diri sendiri oleh orang lain. Kegiatan rutin ini terhenti semenjak kami sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Pada liburan panjang paskah, kami memutuskan untuk bernostalgia camping. Awalnya kami berencana ber-camping di Capolaga, Subang; akan tetapi dengan situasi yang kurang mendukung - merencanakan dengan mendadak - kami terpaksa memindahkan lokasinya. Kebun yang masih terlihat seperti hutan di daerah Tanjungwangi, Subang; milik salah satu dari kami terpilih menjadi tempat untuk ber-camping. Kebun tersebut memiliki kolam ikan yang luas seperti sungai. Kami berangkat menuju tempat tersebut sekitar pukul setengah 5 sore dari Subang kota dan sampai sekitar pukul 5 an. Kamipun langsung membagi tugas masing-masing karena hari sudah mulai gelap. Teman-teman memiliki tugas membuat api unggun mini untuk memasak, membersihkan tempat yang akan digunakan untuk makan malam, dan membuat racikan sambal dan bumbu lainnya. Saya sendiri memilih untuk memancing karena sudah lama sekali saya tidak melakukan hal tersebut. Saya merasa senang bisa melakukan hal yang termasuk baru/jarang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai tidak terasa, saya sudah mendapatkan 3 ikan bawal sedang. Sayangnya, saya harus menghentikan kegiatan memancing saya karena saya sudah tidak dapat melihat pelampung dari alat pancing yang saya gunakan sewaktu malam hari (penerangan disana juga sangat minim hanya ada beberapa lampu yang memang sudah terpasang dan satu senter yang digunakan oleh teman saya).

Sekitar pukul setengah 7 malam, kami semua fokus ke pembuatan makanan dan memasak air (lebih jelasnya air sungai karena air dari PDAM tidak nyala sewaktu itu). Sebenarnya saya agak ragu untuk meminum air sungai walaupun sudah dimasak di atas suhu +-100 derajat celcius, tapi saya pun memberanikan diri karena tidak ada air yang bisa kami minum lagi selain air sungai tersebut. Di saat teman yang lain memasak nasi dan air, saya sendiri memiliki tugas untuk membersihkan ikan agar siap untuk dimasak. Sekitar 15 menit kemudian, makanan sudah siap untuk disantap dan kami pun menikmati hasil buatan kami sendiri sembari bercerita kepada satu sama lainnya. Sesudah menyantap makanan pun kami mengisi kegiatan kami dengan menonton film (kebetulan ada yang bawa laptop) dan besok subuh sekitar pukul 5, saya harus kembali ke rumah karena memiliki janji dengan keluarga.

Walaupun tidak dapat disebut camping secara utuh, akan tetapi kami merasa cukup puas dengan apa yang kami lakukan di situasi yang kami miliki saat itu. Kami menyadari hal yang kami lakukan itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kegiatan camping yang sebenarnya. Hal yang kami cari adalah bernostalgia bersama teman lama di alam terbuka dengan atmosfer yang sudah lama tidak kami rasakan dan kami mendapatkannya pada malam tersebut. Semoga suatu saat, kami dapat melakukannya lagi pada situasi dan persiapan yang lebih baik. See Ya !!

Lumayan dapat 3 ikan bawal untuk pemancing amatir.
Denry sedang membuat api unggun (mini)
Nasi Liwet sedang diproses.
Malam ketika kami mengadakan acara camping tersebut adalah malam bulan purnama.
Kegiatan sebelum tidur. wkwk

Sunday, November 30, 2014

LFL: Found 'Sisingaan'!

I went home to Subang to take my documents for completing passport renewal requirements on 30th of November 2014. It took 2 hours from Bandung by motorcycle or car. Once I got into Subang city, I found something interesting. I saw a crowd in the street. It contained some police officers, marching band, people with bikes, etc. As I got closer and saw a parade, I realized it was a celebration of Persib (Indonesian football club from Bandung) achievement to be a winner of Indonesian Super League (ISL) which is the biggest team league in Indonesia. I have seen it before in Bandung. The reason I call it interesting is I found 'Sisingaan' in the parade which I didn't see in Bandung celebration. This is my first time to see it again after couple years.

'Sisingaan' is a culture origin from Subang which is usually found while celebrating something. It contains 4 persons who dance with a man-made lion on their shoulder. Usually It is accompanied by a crew of singer. Nowadays I rarely see it in Subang. I am worried that it will become extinct as other countries cultures massive penetration to Indonesia that could threaten it. I hope Indonesia government especially Subang government can nurture it well, so that it becomes one part of Indonesian's assets that this world admit. Maybe some annual 'Sisingaan' competitions and exposing 'Sisingaan' in well-packed websites can make it keep alive. :)


Monday, September 29, 2014

AOE: Small but challenging.

Once again (or many times later) I am going to take you to my hiking trip back to October 2012. In this trip, me and COTAS (my community in Subang) were hiking to the mount Canggah, located in Cibogo, Subang, Indonesia. It is about 1600-1800 meters high (I'm not pretty sure about the exact number). The reason why I put  "small but challenging” as the title of this post is because mount Canggah itself is relatively tiny (There are many other higher mountains in Java island) and but we passed it through a non-human way until reaching its summit. What I mean by the 'non-human way' is because this is not a common hiking track for people. There are only few of them have passed through this track. Therefore it was very challenging for us as we have to clear out the way. It took around 5 hours to get to the top of it (including couple minutes of rest).

View from Canggah summit.
Our backpack.
A real jungle. hahah..
Jodi, Wilandika, and our guide, mr.Darman
First time seeing clouds from upper summit.
With my friend, Wilandika. (we chose him as the leader of COTAS)
Jodi was seeing Cileat waterfall near the mountain.
Having snacks after 5-hours journey.

A man-made hovel at the summit.
Here is a video I made at the summit.


Going back as well as going into the jungle.
Taking a rest for a while.
An insect I don't know the name.
Cleaning our body at the river as a substitution of our lack of time of going to Cileat waterfall.
I had never thought that mount Canggah, a mountain near my hometown, could give me an outstanding experience. I have been living in Subang for couple years but I didn't know it could give me such amazing experiences through doing some challenging activities around this place (in this case is a hiking).

Indonesia has a lot of attractions, the famous one just like Bali, Lombok, Raja ampat, and so on; or the not-very-famous ones just like some places that We as Indonesians just found out about them. That's why 'Wonderful Indonesia' is titled to promote it to the world.

Having a lot of amazing places doesn't mean that Indonesia just have to wait for tourists to come. Indonesia has a problem in building good infrastructures. I don't know about the real problem is but from what I saw on TVs and from my own experience, that issue is real. Bad infrastructure prevents tourists come to Indonesia which results in the decline of tourist number each year in some provinces. Another problematic factor which I saw on TVs too is that, many local citizens have limited knowledge about?? which very often destructs the Indonesia's attraction. Learning from these problems, as an Indonesian we must preserve Indonesia's nature. Giving an education to locals is one way to do that. More importantly, the government must build good infrastructures evenly and seriously in all areas for the sake of Indonesian's future investment. I wonder if less money were corrupted, how far Indonesia has progressed to this present days?! It’s just so much to think about and to in this country, isn’t it?

Well, It just my thoughts. I don’t mean to stress everyone out with this kind of discussion! The point is that I just want to urge people to preserve and protect our country with all assets and resources in it. In addition, I hope you can try exploring the not so famous places and make it more famous, at least for the local tourist first. I think that’s the easiest way on how we can help to promote Indonesia’s tourism.

Have a good day everyone :)

Completed by Shinanandana