Thursday, September 22, 2016

AOE: Bangkok Hari #2

Hari kedua ini berbeda dengan hari pertama yang kerjaannya belanja (walaupun ada belanjanya juga sih :D). Rencana awal kami adalah:

- Mengunjungi Wat Pho dengan menumpangi perahu dari pier terdekat dengan penginapan.
- Makan siang di Khao San road.
- Mengunjungi Siriraj Medical Museum.
- Mengunjungi Wat Arun untuk hunting foto sunset.
- Dan terakhir, makan malam di Asiatique Riverfront sekalian nongkrong-nongkrong gaul :D
We are ready!
Waktu menunjukan pukul 07.00, sebagian dari kami pun sudah terbangun. Kaki mulai terasa pegal karena perjalanan beberapa kilometer kemarin, tapi hal tersebut tidak mematahkan semangat kami untuk mengunjungi tempat-tempat authentic di Bangkok. Setelah bersiap-siap, akhirnya kami berangkat sekitar pukul 10 pagi. Kami harus berjalan sekitar 1 km menuju pier terdekat yaitu Wat Muang Kae. Setelah jalan sekitar 20 menit, kami pun sampai di pier tersebut. Kami langsung menanyakan harga untuk ke pier Tha Tien, pier terdekat dengan Wat Pho. Sang pemilik perahu menawarkan THB 200 per orang. Kami pun kaget karena dari hasil riset sebelumnya, harga tiket untuk turis hanya THB 40. Setelah berdiskusi dengan sang pemilik perahu, kami pun mendapatkan kejelasan bahwa di pier tersebut, tidak ada perahu publik dan hanya ada perahu private. Wajar saja harganya pun lebih mahal dari tiket perahu publik.
Jalan menuju pier.
Harga yang terlalu mahal untuk kami pun membuat transaksi tersebut dibatalkan. Saya sempat menanyakan kepada pemilik perahu tentang perahu publik dengan harga yang lebih murah. Dengan polos, dia menunjukan pier Si Phraya yang terletak di sebelah pier Wat Muang Kae. Jujur saya kaget dengan sang pemilik perahu karena dia melakukan hal tersebut setelah saya tolak tawaran darinya. Sebagai patokan, sewaktu saya berada di Hyderabad, India; jangankan memberikan jawaban yang benar tentang pertanyaan saya setelah ditolak tawarannya; tawaran diterima pun kadang tidak sesuai dengan apa yang disepakati. Makanya saya kaget, masyarakat Thailand, khususnya Bangkok; sangatlah ramah walaupun ada juga yang menolak jika ditanya terkait keterbatasan bahasa inggris mereka.

Khao San road

Sekitar pukul setengah 11 siang, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju pier yang ditunjukan oleh sang pemilik perahu tadi. Dalam perjalanan menuju kesana, kami didatangi oleh seorang lokal yang cukup fasih berbahasa inggris. Seorang pria sekitar paruh baya yang percaya diri dan khas dalam berbicara. Dia menanyakan tujuan kami dan kami pun memberikan informasi bahwa kami akan mengunjungi Wat Pho. Dia mengatakan bahwa kami tidak bisa mengunjungi Wat Pho pada pukul 11-an karena para Bikshu beristirahat terlebih dahulu sampai pukul 1 siang. Walaupun kami kurang mempercayai perkataan pria tersebut, tapi kami tetap mengikuti apa yang dikatakan oleh dia karena kami tidak mau perjalanan ini menjadi sia-sia hanya karena ketidakpercayaan kami. Terpaksa kami pun harus merubah rencana perjalanan kami. Perjalanan menuju Wat Pho pun dirubah menjadi menuju Khao San road dengan tujuan makan siang disana. Sesampainya pier Si Phraya, kami langsung membeli tiket perahu menuju pier Phra Arthit yang berada sekitar 1 km dari Khao San road. Ketika ditanya harga perorangnya, saya pun terkejut dengan harga yang diberikan oleh petugasnya. Perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 15-20 menit hanya THB 16/orang (Kalo kita bulatkan kurs rupiahnya menjadi IDR 400, hanya sekitar 6400 rupiah/orang!!). Perasaan kami kaget sekaligus senang mendengar harga tersebut.

Setelah menunggu sekitar 5 menit, perahu kami tiba. Dengan ganasnya perahu yang akan kami tumpangi berhenti untuk mengangkut kami. Seorang kenek perempuan memberitahu kami menggunakan bahasa Thailand dengan lantang. Kami pun langsung menaiki perahu tersebut. Sekitar 15-20 menit sesuai dengan yang diprediksikan, kami sampai di pier “Phra Arthit”. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri untuk berfoto di sekitar pier tersebut. Kebetulan ada satu obyek yang bagus untuk dijadikan background untuk berfoto. Setelah kami puas, barulah kami berjalan kaki menuju Khao San road yang berjarak sekitar 1 km dari pier. Panas yang cukup terik kami lewati dengan semangat. Kami juga melewati suatu kawasan yang ramai oleh para turis yang sedang bersantai di cafe-cafe yang berjejeran sepanjang jalan. Keramaian turis tersebut menandakan bahwa tujuan kami sudah dekat. Tidak sampai 15 menit, kami pun sampai di Khao San road. Jalanan terkenal tersebut terlihat sepi. Kami menanyakan kepada orang lokal sekitar. Seorang supir tuk-tuk (bajai) menjadi sasaran bertanya kami. Dia memberitahu kami bahwa Khao San road tutup pada hari senin. Saya pribadi kurang bisa mempercayai perkataan bapak tersebut (lagi) karena saya memang orang yang kurang mudah untuk mempercayai perkataan orang lain. Saya melihat-lihat tempat sekitar Khao San road. Beberapa tempat terutama restoran memang terlihat sepi dari pengunjung dan memang terlihat seperti tidak sedang berjualan. Hati saya mulai mempercayai perkataan bapak tadi. Waktu terus berjalan, matahari semakin terik dan membuat perut kami berbunyi. Tujuan awal kami untuk mencari makan di Khao San road pun semakin sulit untuk terealisasi. Saya sendiri menawarkan alternatif untuk makan di kawasan turis yang kami lewati tadi, tapi beberapa dari kami sudah tidak kuat untuk berjalan lagi karena belum makan seharian. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk makan di McD yang memang buka 24 jam. Kami memesan makanan yang memang tidak ada di McD Indonesia untuk sedikit mengobati kekecewaan kami.
Riding a big boat!!
Menggila di pier Phra Arthit
Obyeknya mirip dengan Monas :D
Khao San road di siang hari
Salah satu menu yang beda dengan McD Indonesia Hahah...
Wat Pho

Setelah selesai makan siang di McD, awalnya kami berencana mengunjungi Siriraj Medical Museum, sebuah museum yang berisi tubuh atau bagian tubuh manusia yang diawetkan. Rencana tersebut kami batalkan karena beberapa pertimbangan seperti berikut:

- Tiket masuk ke Siriraj Medical Museum adalah THB 100 per orang, sedangkan uang kami sudah hampir habis karena kekeliruan prediksi pengeluaran.
- Untuk mencapai ke tempat tersebut, kami harus menyebrangi sungai Chao Phraya yang memang cukup besar. Apabila kami berjalan kaki, waktu dan tenaga kami habis. Apabila kami naik tuk-tuk, ada biaya tambahan yang dikeluarkan dan harga yang ditawarkan kepada kami cukup tinggi.
- Saat itu menunjukan pukul 1-2 siang, sedangkan kami masih memiliki 3 destinasi yang belum berhasil dikunjungi. Kami lebih memilih untuk mengunjungi temple daripada museum karena Bangkok memang terkenal dengan templenya.

Maka dari itu, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Wat Pho yang berjarak sekitar 1.4 km. Awalnya kami berjalan kaki sampai hampir setengah perjalanan, tapi karena terasa jauh dan panas, kami akhirnya memutuskan untuk naik tuk-tuk. Ada 2 tuk-tuk yang kami temui. Pertama, supir tuk-tuk menawarkan harga yang menurut kami berlebihan. Dia menawarkan harga THB 500 untuk perjalanan ke Wat Pho yang dimana hanya tinggal sekitar 1 km kurang. Sedangakan, supir tuk-tuk kedua hanya memberikan harga THB 100 dan otomatis kami langsung menyetujuinya. Ada satu hal yang menurut saya lucu. Ketika kami sampai di Wat Pho, kebetulan kami tidak memiliki pecahan uang kecil. Kami memberikan uang THB 1000 dan menanyakan apakah si supir memiliki kembalian. Si supir pun menjawab dengan bahasa Thailand yang kami sama sekali tidak mengerti, tapi dari gesturnya, si supir sepertinya tidak memiliki kembalian. Ketika kami sedang mencari ide, si supir tuk-tuk memberitahu kami satu kata yang pelafalannya cukup aneh di telinga kami sambil menunjuk ke arah depan. Kami pun menebak-nebak kata tersebut sampai akhirnya kami mengetahui apa yang dia maksud. Ternyata yang dia maksud adalah "sevel/seven eleven". Dia meminta kami untuk menukarkan uang di sevel, tapi sewaktu saya mau berjalan ke arah yang dia tunjuk, saya sama sekali tidak melihat adanya sevel di depan. Kami kembali bingung sampai kami mengganti ide menjadi membayarkan tiket masuk ke Wat Pho terlebih dahulu, baru kembaliannya kami bayarkan ke si supir tuk-tuk. Sewaktu kami mau turun dan masuk untuk membeli tiket, si supir terlihat marah sambil mengatakan kata-kata yang kami tidak mengerti (lagi). Dia mengeluarkan uang yang dia punya. Dia mencoba memberitahu kami, "Saya tidak ada kembalian, kalo mau kembaliannya kurang silakan ambil saja". Lalu kami mencoba untuk menjelaskan ide kami tapi dia tidak mau menerimanya dan hanya mau kami untuk mengikuti ide dia sambil menyuruh kami untuk masuk ke dalam tuk-tuknya. Kami pun mengikuti apa yang dia coba katakan. Ternyata dia mengantarkan kami ke sevel yang terdekat. Letak sevel tersebut memang tidak terlihat dari posisi kami sebelumnya karena memang berjarak sekitar 100-200 m dan harus belok dulu. Saya pun langsung turun menukarkan uang dan kembali kepada si supir tuk-tuk. Dia masih terlihat kesal sambil menggerutu. Saya memberi dia uangnya dan mengatakan dengan bahasa Indonesia sambil tersenyum "Terima kasih bapak lucu". Kejadian tadi pun membuat kami semua tertawa dan sedikit menghibur kami pada hari itu.
Di dalam Tuk-Tuk
Berpose sambil menunggu uang receh buat bayar tuk-tuk
Kami memasuki Wat Pho dengan membayar THB 100 per orangnya. Sejarah Wat Pho tertulis di beberapa tempat disana. Pada awalnya kami tidak tahu apa-apa tentang Wat Pho. Kami hanya ingin mengunjungi tempat wisata di Bangkok yang cukup terkenal ini. Dikarenakan keterbatasan pengetahuan kami tentang tempat wisata tersebut, maka kami hanya mengikuti arus para turis berjalan. Salah satu ruangan yang dipadati oleh arus para turis adalah sebuah ruangan panjang sekitar 50-60 meter yang dapat disimpulkan adalah ruangan wisata utama karena paling ramai arusnya. Sewaktu memasuki ruangan tersebut, kami diberitahu oleh petugas disana agar membuka sepatu dan berpakaian sopan terutama untuk wanita agar tidak memakai hot pant atau short. Begitu masuk, kami semua terkejut karena kami baru menyadari bahwa yang berada di dalam ruangan sepanjang 50-60 meter tersebut adalah patung Buddha berbaring raksasa yang terbuat dari emas dan panjangnya sekitar 40 meter. Kami tidak ingin ketinggalan untuk mengambil foto dan video dengan patung tersebut. Salah satu patung Buddha terbesar yang pernah saya kunjungi. Kami menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit di dalam ruangan tersebut.
Minta tolong ambil foto ke turis lain tapi fokusnya lupa dijadiin otomatis, jadi beginilah hasilnya. LOL
Reclining Buddha dilihat dari luar ruangan
Setelah puas menikmati patung Buddha raksasa, kami mengunjungi daerah lain di kawasan Wat Pho. Ada satu hal yang menarik lagi selain patung Buddha raksasa. Sewaktu kami menuju bagian belakang dari kawasan Wat Pho, kami menemukan sebuah vihara yang tentu saja masih aktif tapi banyak sekali turis yang masuk dan duduk merenung. Saya pribadi sempat bingung karena saya kira para turis tersebut masuk ke vihara tersebut untuk berdoa. Ketika saya perhatikan lagi di dalam vihara, ternyata mereka hanya duduk diam sambil melihat ke arah depan dimana terdapat patung Buddha emas sedang duduk menghadap ke arah mereka. Mungkin saja mereka sedang merenung atau mendapatkan ketenangan hati disana. Who knows.
Di dalam vihara
Waktu menunjukan pukul 4-5 sore. Beberapa diantara kami sudah terlihat kelelahan. Rencana awal kami adalah berburu sunset di temple Wat Arun. Sebenarnya Wat Arun sangat dekat dengan Wat Pho karena hanya berjarak 850 meter dan hanya perlu menaiki perahu untuk menyebrangi sungai Chao Phraya tapi kami terpaksa membatalkan rencana tersebut karena kami sudah cukup kelelahan dan sudah LAPAR. Hahaha.... Jadi, kami langsung menuju tujuan terakhir kami di hari tersebut yaitu Asiatique Riverfront dengan menggunakan perahu menuju pier Wat Rajsingkorn.

Asiatique Riverfront

Sebelumnya kami mengira bahwa Asiatique Riverfront ini mirip dengan Clarke Quay di Singapura, tempat orang-orang nongkrong, menikmati makanan dan minuman di cafe-cafe yang tersedia. Setelah kami sampai di tempatnya, perkiraan kami sedikit melenceng. Asiatique Riverfront lebih menyerupai perpaduan antara Paris Van Java, Bandung dan Dufan, Jakarta. Selain terdapat cafe, di tempat ini juga terdapat area perbelanjaan layaknya PVJ dan area bermain seperti gokart dan kincir angin layaknya Dufan. Tempat ini memiliki 9 warehouse (sebutan untuk area). Setiap warehouse memiliki jenis jualan yang berbeda. Dimulai dari restoran sampai jualan aksesoris memiliki warehouse-nya masing-masing.
Area bermain di Asiatique Riverfront
Area Riverfront
Sesaat setelah sampai di tempat ini, kami memiliki ide untuk membuat sebuah video dance di area umum. Tempat ini adalah salah satu tempat ideal untuk membuat video di tempat umum karena selain pemandangannya yang bagus, di tempat ini pun banyak turis yang berlalu-lalang maupun berfoto-foto. Tidak lama kemudian, dimulailah pengambilan video kami. Beberapa take sudah kami lakukan, tapi masih saja ada yang kurang sempurna karena ada beberapa gerakan yang lupa. Banyak turis yang menonton kami. Kami tidak menyerah sampai akhirnya pada take ke sekian belas, kami diberhentikan oleh petugas setempat. Kami dilarang untuk mengambil video di area tersebut. Kami menanyakan alasannya tapi si petugas tidak mengerti bahasa inggris. Mereka hanya bisa menggunakan bahasa Thailand dan juga bahasa tubuh. Setelah kami terus menanyakan alasannya, akhirnya dia mengeluarkan smartphone dan memperlihatkan suatu peringatan dalam tulisan Thailand campur angka yang mungkin kurang lebih berbunyi seperti ini "Dilarang mengambil video di area ini. Bagi yang melanggar, akan didenda sebesar USD 5000." Setelah melihat peringatan tersebut, barulah kami mengetahui bahwa ada peraturan tertulis dan kami pun mengerti kenapa tidak boleh mengambil video di area tersebut. Kami akhirnya menghentikan aktivitas pengambilan video di area itu dan memutuskan untuk mencari tempat makan.

Bingung memilih makan dimana, kami memutuskan untuk melakukan survey dari tempat makan satu ke tempat makan lainnya dengan melihat menu yang ditawarkan dan harga tentunya. Setelah sekitar 15 menit kami survey, akhirnya kami memutuskan untuk makan di "Wild Orchid restaurant". Salah satu daya tarik restoran tersebut adalah memiliki pelayan yang sangat antusias, bersemangat, baik, dan lucu (dalam artian sebenarnya). Ada beberapa makanan yang kami masih penasaran untuk mencobanya. Salah satunya adalah Pad Thai. Sebenarnya kami sudah mencoba Pad Thai kemarin, tapi rasa dan harganya sangat mengecewakan. Rasanya sangat biasa atau bisa dibilang hambar dan harganya cukup mahal. Selain Pad Thai, kami juga memesan TomYum dan Mapo Tofu.

5 menit berlalu dan makanan akhirnya datang semua. Kami sudah sangat tidak sabar untuk mencobanya. Begitu kami mencoba hidangan yang sudah disajikan oleh pelayan, kami pun sangat terhanyut dalam rasa yang begitu lezat (serius enak banget!!). Tidak ada satupun hidangan yang tidak enak. Harganya juga lebih murah daripada harga makan di pinggir jalan kemarin.
Hidangan makan malam di Wild Orchad Restaurant
Have a good dinner!
Setelah kenyang, kami berkeliling di sekitar Asiatique Riverfront. Kami menemukan satu tempat seperti swalayan kecil yang menjual snack atau oleh-oleh khas Bangkok dengan harga yang lebih murah dari yang pernah kami lihat sebelumnya. So, of course we SHOP again!! Kami membeli snack sebanyak 1 kantung kresek besar dan 1 kantung kresek kecil. Snack toast bread rasa tomyum hanya seharga THB 30 (which is +- IDR 12.000) dan snack durian kering (250 gr) seharga THB 250 (+- IDR 100.000). Untuk snack durian memang cukup mahal dimana-mana, but it's worth it because I love Durian very much!! Selain belanja oleh-oleh, sebagian dari kami juga belanja baju dan celana.

Setelah puas dengan makan dan belanja, kami pulang dengan menggunakan Uber. Harga Uber disana memang hampir sama dengan harga Uber di Indonesia. Hanya beda mata uang saja. Perjalanan hari kedua pun selesai walaupun tidak semua rencana berjalan dengan baik. Satu hal yang membuat kami senang adalah bukan tentang seberapa banyak tempat di dalam rencana yang berhasil kami kunjungi, tapi seberapa mengasyikan aktivitas yang kami lakukan bersama disana. So, see ya on the third day in Bangkok!!
Foto bersama di kawasan Wat Pho
Berdoa di dalam kawasan The Reclining Buddha

Tuesday, September 20, 2016

AOE: Bangkok Hari #1

 CGK to DMK

Bangkok memang sudah menjadi tujuan liburan saya dan grup dari lama tapi belum sempat terealisasi karena bentrok jadwal satu sama lain. Tahun ini, kami memiliki kesempatan emas untuk berkunjung kesana karena kami menemukan waktu yang pas untuk berlibur. Tiket pesawat pun kami cari dengan semangat. Bukan hal yang mudah untuk menemukan tiket pesawat murah. Promosi yang ditawarkan oleh para agen kami dapatkan, tapi tidak segampang membalikan tangan. Uang yang tersedia saat itu menjadi kendala, akibatnya tiket selalu kehabisan. Kami mencoba segala cara dari mulai mencoba cek di maskapai langsung pada jam tertentu sampai menanyakan kepada teman-teman yang sudah berpengalaman traveling kesana. Kami hampir saja frustasi bertaruh dengan waktu yang sudah ditetapkan. Waktu pun berjalan semakin mendekati hari H. Kami sempat ingin menyerah untuk membeli tiket reguler yang harganya cukup mahal, yaitu hampir IDR 2 juta untuk pulang pergi per orangnya (memang berencana untuk traveling low budget); sampai akhirnya rezeki kami pun datang. Promosi baru mulai disebarkan oleh para agen. Ada 3 agen yang kami pilih, salah satunya kami jadikan partner apabila mencari tiket pesawat kemana saja karena harga tiket di agen tersebut lebih murah dari yang lainnya, dapat dipercaya, dan servisnya pun cukup memuaskan. Kami mendapatkan tiket CGK- DMK seharga IDR 850 ribu untuk pulang pergi perorangnya. Lebih dari 50% murahnya dari tiket reguler. Kami langsung membeli tiket tersebut tanpa menunggu lagi dan rencana kami untuk liburan ke Bangkok akhirnya terealisasi.

Selain mencari tiket pesawat, kami juga harus mencari tempat penginapan. Saya pribadi memilih situs Booking.com (bukan promosi ya) karena di situs tersebut, saya dapat booking terlebih dahulu tanpa ada pembayaran sedikitpun dan gratis biaya pembatalan (apabila terdapat informasi "free cancelation"). Beberapa penginapan pun kami sortir dan akhirnya kami dapat satu penginapan yang sesuai dengan selera kami. Murah, nyaman, bersih, dan tidak banyak aturan. Adalah O'Nidra house, sebuah guest house 5 lantai yang terletak di Surawong road, Bangkok. Tempat ini menyediakan kamar seperti asrama, satu kamar sharing dengan customer lainnya. Kami memilih kamar tersebut karena grup kami memang terdiri dari 4 orang dan tidak ingin terpisah karena masalah kenyamanan dan keamanan. Harga yang kami bayar pun cukup murah yaitu THB 4025 untuk 4 orang dan 4 malam. Jadi seorangnya sekitar THB 251 atau sekitar IDR 95 ribu per malamnya. Cukup murah kan?

Waktu terus berjalan. Hari H pun tiba. Kami semua bergegas berangkat ke bandara Soekarno-Hatta dan tiba pada pukul 3 sore karena jadwal keberangkatan kami pada pukul setengah 5 sore. Ketika sampai dan melihat jadwal keberangkatan, pesawat kami ternyata delay 2.5 jam. Kami pasrah menghabiskan waktu di bandara. Makan, ngobrol-ngobrol, dance, dan aktivitas lainnya kami lakukan di bandara. Sekitar pukul setengah 6 sore, kami memasuki area boarding room. Pihak maskapai pun meminta maaf karena delay dan memberi para penumpang nasi kotak sebagai permintaan maaf. Kami tentu saja cukup senang karena mendapatkan makan malam gratis. Hahaha... Nasi kotak tersebut langsung kami santap sampai habis karena memang sudah cukup lapar setelah menunggu 2.5 jam.

Waktu menunjukan pukul 7 malam, tapi kami pun belum diminta untuk masuk ke dalam pesawat. Ada beberapa penumpang lain yang marah karena tidak ada penjelasan tentang keterlambatan keberangkatan. Kami hanya sibuk dengan diri kami sendiri karena marah pun tidak akan membuat kami semua berangkat. Pihak maskapai kembali meminta maaf melalui pengeras suara karena pesawat kembali delay 1 jam. Sesaat setelah mendapatkan informasi tersebut, kami kembali melakukan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya kami lakukan untuk menghabiskan waktu.


Berjam-jam menunggu keberangkatan.
PUKUL SETENGAH 9 MALAM!! Akhirnya kami dipersilakan untuk masuk ke dalam pesawat dan tidak lama kemudian kami pun diberangkatkan menuju bandara Don Mueang, Bangkok.

Setelah sekitar 3 jam perjalanan CGK-DMK, akhirnya kami sampai di DMK. Kami semua turun menuju bagian imigrasi. Pendatang yang masuk ke imigrasi sangat banyak sampai mengantri 5 baris!! Dengan sabar kami menunggu sampai akhirnya berhasil masuk ke dalam area bandaranya. Ada satu hal yang menyita perhatian saya. Pada saat itu sudah pukul 1 malam dan kami harus melewati bagian bea cukai/pengecekan barang yang akan masuk ke kota Bangkok. Begitu masuk ke area bea cukai tersebut, saya tidak melihat satu pun orang yang menjaga. Hanya ada mesin scan barang yang tidak dijalankan di area tersebut. Awalnya saya bingung, takut salah masuk area, tapi petugas setempat membenarkan bahwa pintu keluar harus melewati area tersebut. Kami pun bisa keluar tanpa ada pengecekan barang sama sekali. Aneh bukan? Gimana kalo ada barang-barang aneh ya?
Menunggu antrian di bandara Don Mueang, Bangkok.
Sesaat setelah keluar bandara, kami langsung mencari kartu sim untuk jaga-jaga apabila kami tersesat. Memang di sekitar bandara banyak yang menjual kartu perdana beserta paket yang ditawarkan. Kami memilih kartu "True Move" tak lain hanya karena paket datanya. Mereka menawarkan paket data turis yang terdiri dari pulsa THB 100, kuota full speed koneksi data sebesar 2 atau 3.5 GB (lupa), dan memang sudah menggunakan koneksi 4G. Harga kartu tersebut hampir sama dengan harga kartu perdana di Indonesia yaitu sekitar THB 299 atau kurang lebih sekitar IDR 120 ribu. Kami juga meminta tolong kepada si penjual untuk men-setup kartu perdana tersebut karena tulisan yang tersedia di awal adalah tulisan Thailand yang tidak kami mengerti. Dan ketika kami sudah memiliki koneksi internet, kami langsung memesan Uber karena saat itu sudah terlalu larut malam (sekitar pukul 2 pagi).


True Move sim card
Begitu sampai di O'Nidra house, kami langsung masuk dari pintu belakang. Awalnya kami bingung karena tempat tersebut terlihat tutup dari luar. Begitu kami telepon sang penjaga, kami pun diberi password untuk membuka pintu belakang dan uniknya lagi, para pelanggan yang datangnya melewati jam check-in (21:00), dipajang nama dan kamar serta lantainya di pintu belakang. Kami langsung bergegas menuju kamar kami di lantai 2 untuk beristirahat.


Ucapan selamat datang di depan pintu kamar.
Kamar yang kami tempati.
Keesokan harinya, kami melakukan check-in dan membayar penginapan terlebih dahulu. Biaya penginapan kami untuk 4 orang dan 4 malam hanya THB 4025 atau sekitar IDR 1.5 juta. Dengan kamar yang nyaman dan bersih, harga tersebut sudah sangat murah.

Chatuchak Weekend Market

Hari kedatangan kami adalah hari minggu dan kami memutuskan untuk belanja terlebih dahulu di salah satu pasar weekend terkenal di Bangkok yaitu Chatuchak Weekend Market. Untuk menuju ke pasar ini, kami perlu menaiki BTS (Bangkok Mass Transit System). Kami berkonsultasi terlebih dahulu kepada petugas BTS setempat. Sistemnya mirip MRT di Singapura, namun hanya paket yang ditawarkannya saja yang berbeda. BTS memiliki paket untuk turis yang dibuat berdasarkan jumlah trip dan valid untuk 7 hari. Bangkok memberi nama kartu tersebut "Rabbit card". Setelah berdiskusi selama beberapa menit, akhirnya kami memutuskan untuk membeli paket dengan 25 trip selama 7 hari karena kami memprediksikan akan sering menggunakan BTS untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Harga total yang dikeluarkan sekitar THB 3000 untuk 4 Rabbit card. Cukup mahal untuk low budget traveler, tapi kami tidak mempermasalahkannya. Toh, kami pun akan sering berpindah-pindah tempat dari tempat satu ke tempat lainnya.
Rabbit card.
Stasiun Surasak.

Setelah itu, kami langsung bergegas menuju tujuan dengan menggunakan kartu tersebut. Perjalanan dari stasiun terdekat (stasiun Surasak) menuju stasiun yang dekat dengan Chatuchak Weekend Market (stasiun Mo Chit) memakan waktu sekitar 15 menit. Begitu sampai di stasiun Mo Chit, kami tinggal berjalan kaki beberapa puluh meter untuk mencapai Chatuchak. Keramaian pun terlihat semenjak kami turun dari BTS. Banyak sekali turis yang berlalu-lalang di stasiun dan sekitarnya. Suasana khas pasar tradisional menandakan bahwa kami sudah sampai di tempat tujuan. Berbagai macam street food terlihat di tempat ini dan berhasil mencuri perhatian kami. Mata kami tidak bisa lepas dari jajanan tersebut. Kami membeli daging ayam yang ditusuk seperti sate dan juga sosis tusuk (mungkin makanan seperti ini bisa ditemukan dimana-mana, tapi entah kenapa jajanan seperti ini sangat menggiurkan di Bangkok) dengan harga hanya THB 10!!! WOW!! Cukup kaget ada yang menjual daging ayam, sapi, ikan, maupun babi dengan harga segitu. Selain itu, kami pun membeli spring roll atau di Indonesia terkenal dengan lumpia kering. Banyak sekali street food yang menarik perhatian kami. Bangkok memang terkenal dengan street food.

Tidak lama kemudian, kami memutuskan untuk makan siang di pasar ini. Kami memilih makan di pinggir jalan agar dapat aspek authentic-nya. Kami memesan Pad Thai, Ayam goreng 1 ekor, dan juga Mango Sticky Rice. Kami berekspetasi sangat tinggi terutama untuk Pad Thai dan Mango Sticky Rice karena memang 2 makanan tersebut adalah salah satu makanan Thailand yang paling terkenal. Setelah menunggu sekitar 10 menit, makanan pun datang. Kami dengan tidak sabar langsung mencoba semua makanan yang tersedia. Setelah mencoba, kami agak kecewa karena Pad Thai yang disajikan terasa hambar. Kami tidak tahu rasa asli Pad Thai (rasa asli Pad Thai di Thailand) karena itu kami tidak protes. Setelah 30 menit, makanan yang tersedia pun habis karena walaupun kurang enak tapi kami sangat lapar. Kami meminta bill tagihan. Begitu bill datang, kami sangat terkejut karena tagihannya membengkak. Harga total makan siang kami sekitar THB 650 atau sekitar IDR 250 ribu. Dengan makanan yang kurang enak serta di pinggir jalan, harga tersebut sudah termasuk kategori terlalu mahal. Kami pun meminta penjelasan harganya satu persatu. Si penjual pun menjelaskannya dengan detail. Memang dari awal, kami sudah salah karena tidak menanyakan harganya terlebih dahulu. Kami pun membayarnya dengan berat hati. Kami merasa terptipu, tapi yasudahlah. Namanya juga pengalaman di negara orang. Nikmati saja.
Berpose di depan Chatuchak Weekend Market.
Untuk melupakan kejadian kemahalan makan, kami langsung menuju ke daerah utama pasar Chatuchak. Kami belanja pakaian, makanan kering untuk oleh-oleh, dan lainnya. Harganya pun cukup murah asalkan pandai memilih. Waktu yang kami habiskan disana mencapai hampir 3 atau 4 jam. Cuaca yang panas dengan matahari yang terik membuat kami merasa capek dan berhenti berbelanja. Sesaat sebelum perjalanan pulang menuju stasiun, saya membeli durian monthong karena saya memang pecinta durian dan penasaran dengan durian disini. Harga durian yang sudah dibuka hampir sama dengan harga durian di pulau Jawa. 3 atau 4 line buah durian besar sekitar THB 300 atau sekitar IDR 120 ribuan. Sekali-kali boleh lah memanjakan diri di negeri orang. Hehehe. Kami semua pun setuju untuk menyantap durian terlebih dahulu di Chatuchak Park. Duriannya cukup lezat, bijinya pun sangat kecil, dan buahnya sangat banyak. Tidak ada lagi yang spesial selain itu semua.
Durian party!!
Setelah 30 menit kami menghabiskan durian, kami akhirnya bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya yaitu mall Platinum yang konon katanya, harganya pun murah-murah terutama untuk urusan fashion. Kami harus turun di stasiun Siam atau Chit Lom yang dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar beberapa ratus meter. Pertama kami sampai di stasiun tersebut, kami mengandalkan Google Maps dari kartu sim yang telah kami beli sebelumnya. Kami mengikuti apa yang maps arahkan. Setelah hampir 15 menit berjalan kaki, kami akhirnya menyadari bahwa GPS di dalam map tersebut tidak jalan. Sangat mengecewakan karena kami membeli kartu sim tersebut memang untuk menavigasi apabila kami nyasar di suatu tempat. Akhirnya kami pun menggunakan cara manual yaitu bertanya kepada orang-orang sekitar. Ternyata selama hampir 15 menit kami menghabiskan waktu untuk berjalan kaki tadi, kami berjalan ke arah yang salah. Kaki kami sudah tidak bisa membohongi kami lagi. Kami sudah cukup lelah untuk perjalanan hari tersebut. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju mall fashion Platinum.

Setelah istirahat beberapa menit, kami melawan rasa capek untuk melanjutkan perjalanan. Berjalan kaki sekitar 20 menit, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Mall Platinum menurut saya mirip dengan BTC di Bandung atau Mangga Dua Square di Jakarta Utara. Memang harganya tidak semurah di Chatuchak tapi sudah cukup murah untuk ukuran mall. Kami akhirnya survey harga dan belanja walaupun sedikit. Hahaha.. Memang tujuan dari hari pertama kami di Bangkok ini adalah belanja. Didekat mall Platinum yang sedang kami singgahi ternyata terdapat night market. Lagi-lagi, kami kalap belanja lagi. LOL.

Hari pertama di Bangkok pun telah usai. Kami pulang dengan beberapa kantung belanjaan kami. Tidak ada kata menyesal untuk hari pertama ini walaupun ada beberapa kejadian mengecewakan. Namun semua itu untuk pengalaman kami karena segala sesuatu yang baru adalah untuk pembelajaran kedepannya, untuk modal dalam memilih sebuah keputusan. Kami senang walau kaki sudah pegal-pegal. Satu kalimat yang ada di benak kami saat itu, "Tidak sabar rasanya ingin menikmati tempat wisata esok hari". Well then, see you on day 2!!!

Thursday, May 19, 2016

LFL: Diskriminasi penerimaan karyawan (?)

"Don't judge a book by its cover" part.1


Di jaman sekarang ini, apalagi di kota-kota besar di Indonesia, peribahasa di atas sepertinya hanya menjadi salah satu hiasan kumpulan kalimat peribahasa yang ada di dunia ini. Bagaimana tidak, dalam screening penerimaan karyawan di awal saja, sebagian besar perusahaan lebih memilih lulusan universitas ternama (seperti ITB, UNPAD, UI, dan lainnya). Saya tidak mengatakan bahwa lulusan universitas ternama tidak memiliki kualitas yang mumpuni. Saya akui sebagian besar tokoh-tokoh berpengaruh di Indonesia adalah lulusan universitas ternama. Masalahnya adalah dengan adanya image bahwa lulusan universitas ternama pasti lebih unggul daripada universitas yang kurang dikenal, sebagian besar perusahaan (khususnya perusahaan besar) lebih memprioritaskan lulusan universitas ternama dibandingkan universitas lainnya. Pertanyaannya adalah "Apa memang benar bahwa lulusan universitas ternama pasti lebih baik dibandingkan lulusan universitas lainnya?". Saya berani menjawab belum tentu. Kualifikasi seseorang tidak hanya ditentukan dari dimana dia mencari ilmu, tapi juga dari kepribadian atau sering juga disebut soft-skill dari orang tersebut. Kepribadian seseorang dalam mencari ilmu untuk sukses (dalam hal apapun), menjadi salah satu faktor yang tidak kalah penting. Lagipula banyak cara untuk masuk ke universitas ternama as we all know lah ya hahaha... Jadi masuk universitas ternama tidak menjamin akan memiliki kualitas lebih bagus dibandingkan dengan belajar di universitas yang kurang dikenal.


Walaupun begitu, sangat amat disayangkan, sebagian besar perusahaan di Indonesia ataupun mungkin ada juga perusahaan luar negeri yang langsung memberikan tembok/garis merah di tahap awal penerimaan karyawan. Contohnya dengan memberikan persyaratan "diutamakan lulusan universitas ternama" ataupun persyaratan tidak tertulis yang hanya mempertimbangkan lulusan universitas ternama saja. Walaupun mungkin masih ada kesempatan untuk lulusan universitas lainnya, tapi apakah kesempatan itu sama besarnya dengan para lulusan universitas ternama (prioritas)? Mungkin juga ada yang berkata pasti bisa apabila bekerja keras dan bisa menunjukan bahwa memang layak untuk diterima di perusahaan. Saya tanya, bagaimana kita bisa menunjukan kalo kita layak apabila dari pemilihan CV untuk ke tahap tes ataupun wawancara saja sudah dipandang sebelah mata/tidak dipertimbangkan untuk tahap selanjutnya (atau mungkin ada titipan/slot untuk si A,B,C HAHAHA)? Saya tahu perusahaan tidak peduli itu. Tapi apakah mereka menyadari dengan begitu, probabilitas mereka untuk mendapatkan karyawan dengan potensi besar untuk berkontribusi terhadap perusahaan pun semakin kecil?

Mungkin itu hal yang baik di satu sisi karena perusahaan dapat mengevaluasi lebih sedikit kandidat, tapi di sisi lain hal tersebut menjadi hambatan yang cukup besar. Kesempatan para lulusan universitas kurang dikenal lenyap. Mereka bahkan tidak diberi kesempatan untuk menunjukan kualitas mereka. "Apakah lulusan universitas kurang dikenal tidak bisa untuk lebih baik dari lulusan universitas ternama? Apakah para HRD bisa menjamin bahwa lulusan universitas kurang dikenal kualitasnya lebih rendah daripada lulusan universitas ternama?". Bisa jadi salah satu calon karyawan terbaik tidak akan pernah menunjukan taringnya. Bisa jadi potensi besar salah satu calon karyawan akan tersia-siakan. So, my advice is if you want to get the best potential employees for your company, fix up your enrolment system first. Don't discriminate from which university they are. Evaluate from their quality.


Wednesday, April 27, 2016

LFL: Kenyataan Paling Menyedihkan di Dunia.

"Padi menguning semakin berisi, semakin merunduk"

Teman-teman pasti sudah pernah mendengar peribahasa yang satu ini. Peribahasa ini artinya semakin tinggi ilmu seseorang, sikapnya pun harus semakin rendah hati. Saya pribadi mengartikannya lebih umum, semakin tinggi jabatan, kekayaan (secara ekonomi ataupun lainnya), ilmu, umur, dan lainnya, maka harus semakin rendah hati juga orang tersebut. Contohnya, semakin tua umur seseorang, maka harus semakin bijak/tidak sombong/tidak angkuh. Hal tersebut berlaku kepada jabatan, kekayaan, ilmu, dan lainnya.

Teori pada kenyataannya tidak selalu berjalan sesuai harapan. Banyak orang di dunia ini, terutama yang saya temui, masih tidak sesuai dengan peribahasa tersebut. Saya akan membagi satu cerita pendek yang mungkin dapat dijadikan contoh.

Cerita ini berawal dari teman saya (sebut saja A) yang mencari sebuah kos-kosan di daerah Mampang Prapatan IV, Jakarta Selatan karena lokasi yang dekat dengan tempat kerjanya di daerah Jl. Tendean. Singkat cerita, ketika sudah survey beberapa kosan, A tertarik kepada satu kosan. Kosan tersebut adalah kosan dengan inisial "MI". Sebuah rumah kosan yang cukup besar terdiri dari 3 lantai dan memiliki halaman parkir yang cukup luas. Ketertarikan A kepada kosan tersebut tidak lain karena kamarnya luas, bisa dihuni oleh 2 orang (patungan), fasilitas lengkap, dan memiliki lobi yang luas sehingga ibu kosannya pun mempersilahkan apabila lobinya ingin dipakai. Dikarenakan A memiliki hobi dance, dia langsung menanyakan apakah lobinya bisa dipakai untuk latihan dance. Ibu kosan pun mempersilahkan dengan baik hati.

Setelah berjalan beberapa bulan, A pun dengan senang hati menggunakan fasilitas lobi yang disediakan. Hingga akhirnya pada satu malam, penjaga kosan menghampiri si A dan menegurnya karena seringkali lobi tidak dibereskan. A pun heran karena sebelumnya tidak pernah ditegur dan baru menyadari bahwa tindakannya salah. Dengan sigap A dan teman-temannya pun langsung membereskan lobi dan tidak pernah mengulanginya lagi. Masalah pun selesai.

Selain dance, A pun memiliki hobi belanja online. Barang kiriman di kosan tersebut biasanya dijejerkan di meja penjaga kosan yang terletak di lobi. Seringkali, A pun mengecek paket-paket tersebut untuk mengetahui apakah ada pake milik dia atau tidak. Suatu hari ketika A mengecek paket-paket tersebut, sang ibu kos berbicara kepada A dengan nada sinis, "Bukan paket kamu. Belum ada paketnya." Seketika A pun merasa kesinisan tersebut pertanda ada yang tidak beres karena ini bukan pertama kalinya A merasa diperlakukan seperti itu. A pun komplain kepada penjaga kos tentang sikap ibu kos (Pada saat laporan pembayaran kosan karena ditransfer melalui ATM). A pun meminta tolong agar ibu kos bersikap ramah dan apabila ada masalah, bisa didiskusikan dengan baik-baik. Penjaga kosan pun menampung keluhan tersebut dan menyampaikannya pada hari berikutnya.

Hari berikutnya, A memiliki janji untuk latihan dance dan meminta saya untuk merapikan gerakan grup miliknya. Teman-teman A pun sudah datang sebelum A pulang dan menunggu di lobi seperti biasanya. Ketika A pulang, ibu kos memanggilnya dengan alasan ingin mengobrol. A pun menyetujuinya dan duduk berdua berhadapan. Ibu kos bertanya dengan nada agak tinggi apa maksud A komplain ke penjaga kosan tentang sikapnya. A pun menjelaskan dengan tenang bahwa sikap seperti itu membuat penghuni tidak nyaman dan lainnya. A juga menjelaskan jika dia pasti akan mematuhi peraturan kosan dan rela apabila ditegur tapi dengan cara yang baik. Akan tetapi, ibu kos tersebut dengan arogan dan menyentak berkata, "INI RUMAH, RUMAH SAYA, UANG, UANG SAYA, JADI TERSERAH SAYA. KALO GA MAU, PERGI DARI RUMAH INI!!". Seketika A pun tersulut emosinya dan berkata, "KALO GINI IBU GA BISA DIAJAK DISKUSI DONG?!". Ibu kos pun makin menyentak dan emosi, "KAMU BERANI?! KAMU ITU NUMPANG DISINI JADI HARUS IKUTIN ATURAN SAYA!!". Singkat cerita, ibu kosan juga mengusir teman-teman A yang sedang menunggu di lobi. A pun protes karena teman-temannya tidak tahu apa-apa. Ibu kosan tidak peduli dan menyentak mereka semua untuk pergi dari rumah itu. Mereka terpaksa keluar dari rumah tersebut menuju parkiran. Mereka berdiskusi tentang langkah apa yang akan diambil selanjutnya. Tidak lama kemudian (singkat cerita setelah saya datang), ibu kos yang tadinya di dalam rumah, keluar menghampiri dan mengusir kami (lagi). Situasi saat itu bisa dibilang seperti mengusir hewan. (Singkat cerita lagi) Pada akhirnya, A pun sudah muak dengan sikap ibu kos tersebut. Dia bilang akan pergi sekarang juga dengan syarat kembalikan uang yang baru dibayarkan pada malam sebelumnya. Setelah mendengar pernyataan tersebut, ibu kos pun diam dan pergi. Asumsi kita adalah ibu kos tidak mau mengembalikan uangnya, hanya ingin kami pergi. Ternyata memang ada beberapa kerabat dari teman yang pernah tinggal disitu dan pindah lagi (tidak lama); dan juga beberapa tukang ojek yang menanyakan A bahwa kenapa mau ngekos di kosan tersebut. Orang luar ternyata sudah banyak yang melihat negatif kosan tersebut, padahal kami sama sekali tidak berpikir seperti itu sebelumnya.

Note: Cerita tersebut dari pengalaman pribadi/kenyataan, tidak ada rekayasa. Hanya namanya saja disamarkan.

Dari cerita tersebut, sudah jelas sangat menyimpang dari peribahasa di atas. Ibu kos tersebut lebih tua (umurnya sekitar 30-an akhir/40-an) dan merasa memiliki harta yaitu uang dan rumah kos yang mewah akan tetapi sikapnya arogan dan sombong kepada A dan juga teman-temannya. Padahal A adalah penghuni kosan/pelanggan/customer yang selalu membayar setiap bulannya.

Saya sendiri sampai berpikir, "Mungkin bertambahnya umur tidak berbanding lurus dengan bertambahnya ilmu. Mungkin bertambahnya umur tidak berbanding lurus dengan bertambahnya kerendahan hati seseorang. Mungkin bertambah tingginya kekayaan seseorang (secara ekonomi maupun lainnya) tidak berbanding lurus dengan bertambahnya ilmu seseorang. Dan mungkin juga bertambah tingginya kekayaan seseorang (secara ekonomi maupun lainnya) tidak berbanding lurus dengan bertambahnya kerendahan hati seseorang". Banyak sekali contoh lain di luar sana (tidak men-generalisasi), yang menggambarkan kenyataan tidak menyenangkan ini. Apakah kalian memiliki pengalaman pribadi yang serupa (berhubungan dengan menyimpangnya peribahasa di atas)? Silakan share di bawah.

Terima kasih. :)

Tuesday, March 29, 2016

AOE: Nostalgia Camping Sederhana

Camping adalah salah satu kegiatan liburan yang banyak digemari oleh masyarakat, terutama yang menyukai alam. Camping menjadi kegiatan rutin saya dan teman-teman saya dari Subang - yang disebut COTAS - pada periode tahun 2010-an. Istilah camping dalam kamus kami adalah kegiatan menginap semalam di alam yang dilengkapi oleh makan makanan yang kami buat sendiri di api yang juga kami buat sendiri (sejenis api unggun kecil), mengobrol bersama, dan hal-hal lain yang sering disebut hanya menyusahkan diri sendiri oleh orang lain. Kegiatan rutin ini terhenti semenjak kami sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Pada liburan panjang paskah, kami memutuskan untuk bernostalgia camping. Awalnya kami berencana ber-camping di Capolaga, Subang; akan tetapi dengan situasi yang kurang mendukung - merencanakan dengan mendadak - kami terpaksa memindahkan lokasinya. Kebun yang masih terlihat seperti hutan di daerah Tanjungwangi, Subang; milik salah satu dari kami terpilih menjadi tempat untuk ber-camping. Kebun tersebut memiliki kolam ikan yang luas seperti sungai. Kami berangkat menuju tempat tersebut sekitar pukul setengah 5 sore dari Subang kota dan sampai sekitar pukul 5 an. Kamipun langsung membagi tugas masing-masing karena hari sudah mulai gelap. Teman-teman memiliki tugas membuat api unggun mini untuk memasak, membersihkan tempat yang akan digunakan untuk makan malam, dan membuat racikan sambal dan bumbu lainnya. Saya sendiri memilih untuk memancing karena sudah lama sekali saya tidak melakukan hal tersebut. Saya merasa senang bisa melakukan hal yang termasuk baru/jarang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai tidak terasa, saya sudah mendapatkan 3 ikan bawal sedang. Sayangnya, saya harus menghentikan kegiatan memancing saya karena saya sudah tidak dapat melihat pelampung dari alat pancing yang saya gunakan sewaktu malam hari (penerangan disana juga sangat minim hanya ada beberapa lampu yang memang sudah terpasang dan satu senter yang digunakan oleh teman saya).

Sekitar pukul setengah 7 malam, kami semua fokus ke pembuatan makanan dan memasak air (lebih jelasnya air sungai karena air dari PDAM tidak nyala sewaktu itu). Sebenarnya saya agak ragu untuk meminum air sungai walaupun sudah dimasak di atas suhu +-100 derajat celcius, tapi saya pun memberanikan diri karena tidak ada air yang bisa kami minum lagi selain air sungai tersebut. Di saat teman yang lain memasak nasi dan air, saya sendiri memiliki tugas untuk membersihkan ikan agar siap untuk dimasak. Sekitar 15 menit kemudian, makanan sudah siap untuk disantap dan kami pun menikmati hasil buatan kami sendiri sembari bercerita kepada satu sama lainnya. Sesudah menyantap makanan pun kami mengisi kegiatan kami dengan menonton film (kebetulan ada yang bawa laptop) dan besok subuh sekitar pukul 5, saya harus kembali ke rumah karena memiliki janji dengan keluarga.

Walaupun tidak dapat disebut camping secara utuh, akan tetapi kami merasa cukup puas dengan apa yang kami lakukan di situasi yang kami miliki saat itu. Kami menyadari hal yang kami lakukan itu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kegiatan camping yang sebenarnya. Hal yang kami cari adalah bernostalgia bersama teman lama di alam terbuka dengan atmosfer yang sudah lama tidak kami rasakan dan kami mendapatkannya pada malam tersebut. Semoga suatu saat, kami dapat melakukannya lagi pada situasi dan persiapan yang lebih baik. See Ya !!

Lumayan dapat 3 ikan bawal untuk pemancing amatir.
Denry sedang membuat api unggun (mini)
Nasi Liwet sedang diproses.
Malam ketika kami mengadakan acara camping tersebut adalah malam bulan purnama.
Kegiatan sebelum tidur. wkwk

Thursday, March 10, 2016

AOE: Gerhana Matahari 9 Maret 2016

Menulis fenomena (terutama fenomena alam) dan momennya (pastinya) adalah salah satu kegiatan yang menyenangkan, terlebih lagi jika fenomenanya adalah fenomena yang langka. Pada tanggal 9 maret 2016, di Indonesia (khususnya) telah terjadi gerhana matahari total. Perlu diketahui bahwa gerhana matahari itu terjadi setiap 18 bulan sekali (menurut Avivah Yamani, M.Sc - Astronomy Communicator dari LangitSelatan.com pada seminar 'Space Series: 3 minutes of darkness over Indonesia' yang diadakan di @america, Pasific Place Mall, Jakarta pada tanggal 26 februari 2016) dan pada titik yang sama, gerhana matahari memiliki siklus 200/375 tahun sekali (ada perbedaan pendapat, menurut Prof. Dr. Bambang Hidayat - ahli astronomi senior dalam seminar yang sama - siklus tersebut terjadi 200 tahun sekali. Menurut infoastronomy.org, gerhana matahari terjadi pada lokasi yang sama sekitar kurang dari 375 tahun). Jadi bisa dipastikan bahwa gerhana matahari yang terjadi di Indonesia (terutama) ini adalah fenomena yang langka walaupun tempat saya berada (pulau Jawa) tidak terkena gerhana matahari total, hanya sebagian (hanya beberapa titik di Indonesia bagian utara yang terkena gerhana matahari total seperti Palangkaraya, Palu, Ternate, dan lainnya).

Dalam rangka menyaksikan gerhana matahari, saya pergi menuju Observatorium Bosscha di Lembang bersama teman saya. Sewaktu kami sampai di jalan masuk Bosscha, keramaian kendaraan langsung terlihat. Masyarakat dari berbagai kalangan (anak kecil, remaja, dewasa, dan lanjut usia) pun ingin sekali menyaksikan fenomena gerhana matahari tersebut walaupun terjadi pada pagi hari (mulai: 06.19, puncak: 07.28, akhir: 08.28) dan tidak total (hanya sebagian). Beberapa mobil media televisi pun terlihat parkir di sekitar Observatorium Bosscha. Terlihat juga antrian panjang menuju loket pembelian kacamata khusus gerhana. Kacamata khusus gerhana tersebut dijual Rp.25.000/kacamata. Kami tentu saja membelinya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi. Perlu diketahui (lagi), mitos yang dulu berkembang (tidak boleh melihat gerhana Matahari), sudah berhasil dijelaskan secara ilmiah oleh beberapa institusi dan ahli. Gerhana matahari total memiliki beberapa fase yaitu fase 1: mulai terjadi penutupan, fase 2: penutupan total, fase 3: mulai terjadi pembukaan, fase 4: terbuka sepenuhnya. Fase yang sangat berbahaya apabila dilihat oleh mata telanjang adalah fase ketiga karena pada waktu fase kedua, langit menjadi gelap dan pupil mata kita membesar, jalur penerimaan cahaya membesar karena gelap. Begitu masuk ke fase ketiga dimana bulan mulai bergeser menjauhi posisi sinar matahari menyorot ke bumi, pupil yang posisinya masih membesar tadi akan menerima sinar matahari yang sangat terang (menurut Avivah Yamani, M.Sc cahaya matahari tersebut setara 7500 watt/cm2) dan hal tersebut bisa menyebabkan kornea terbakar dan buta. Disinilah kegunaan kacamata khusus gerhana tersebut bekerja. Benda tersebut menyaring sinar matahari minimal 70 persen. Alhasil yang hanya terlihat pada kacamata tersebut adalah matahari tanpa sinar (matahari berwarna oranye).

Dari sisi kepercayaan yang saya anut, setiap terjadi gerhana (matahari atau bulan), sebaiknya para pemeluknya melakukan shalat gerhana karena fenomena tersebut dipercaya sebagai tanda akan datangnya azab dari Tuhan, bahkan dipercaya sebagai tanda akan datangnya hari kiamat. Maka dari itu, para pemeluknya dianjurkan untuk berdoa meminta keselamatan dan memohon ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dari sisi kepercayaan lain, gerhana matahari adalah sebuah kejadian Batara Kala yang menelan matahari karena dendam terhadap dewa matahari. Batara Kala dikenal sebagai putra dari Dewa Siwa, ia tidak tinggal di kayangan karena bentuknya yang menyeramkan, Batara Kala lahir dari air mani Dewa Siwa yang jatuh menetes ke laut, saat Dewa Siwa tengah berjalan di pantai dan melihat betis Dewi Uma (Source: http://indonesiana.merahputih.com/budaya/2016/03/05/misteri-gerhana-matahari-dan-raksasa-batara-kala/38957/).

Kesimpulan dari semua hal tersebut adalah kita sebagai manusia agar selalu bersyukur atas apa yang kita dapat (salah satunya dapat melihat fenomena yang langka). Jangan sampai menjadi lupa diri dan sombong. Kita ini hanya sebagian kecil dari ciptaan Tuhan. Banyak hal di luar sana yang mungkin masih belum bisa dimengerti oleh manusia.

👍👌

Gerhana matahari 9 maret 2016 dilihat dari Bandung dan diambil dengan menggunakan smartphone.
Gerhana matahari diambil tanpa menggunakan solar filter.
Silhouette
Keramaian di Observatorium Bosscha

Monday, February 29, 2016

AOE: Mengunjungi Teman di Sodong Hilir

Perjalanan menuju Sodong Hilir

Sibuknya kuliah membuat saya memiliki hutang janji kepada teman ataupun keluarga untuk mengunjungi mereka. Salah satunya adalah teman saya yang bernama Yosep. Saya memiliki janji untuk mengunjungi dia di kampung halamannya yaitu Sodong Hilir. Sodong hilir terletak di sebelah timur Kabupaten Tasikmalaya. Menurut Google Maps, jarak dari kota Bandung menuju Sodong Hilir adalah kurang lebih 150 km dan dapat ditempuh dengan waktu sekitar 4 jam.

Ketika saya berhasil lulus dari bangku perkuliahan, saya langsung memutuskan untuk menepati janji saya kepada Yosep tersebut. Saya memutuskan untuk berangkat sendiri sekitar jam 3/setengah 4 sore (setelah Ashar) dengan menggunakan motor matik dan juga bermodalkan Google Maps sebagai alat navigasi. Persiapan diri akan hal yang akan terjadi di luar perkiraan pun sudah disiapkan (secara mental. Hahaha). Kota Bandung yang dulu jarang terjadi macet pun sekarang macet dan hal tersebut menjadi hambatan pertama yang saya harus hadapi dalam perjalanan ini. Saya membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam untuk keluar dari kabupaten Bandung (dari Cicadas).

Garut menjadi wilayah kedua yang saya lewati (setelah kabupaten Bandung) dalam perjalanan ini. Saya sampai di kota ini sekitar pukul 18 (waktu Maghrib). Di kota ini sama sekali tidak ada hambatan kecuali cuaca. Hujan turun deras secara tiba-tiba dan membuat saya untuk berhenti sejenak. Sewaktu itu, saya tidak memiliki jas hujan yang layak (pernah punya jas hujan 2 kali tapi keduanya robek entah kenapa.) dan hanya memiliki jas hujan yang terbuat dari kresek hijau bekas touring ke situs megalitikum gunung Padang beberapa hari sebelumnya. Dengan terpaksa, saya pun menggunakan jas hujan yang sangat istimewa tersebut. Sesampai jalan Garut-Tasikmalaya, hujan pun reda, bahkan ketika saya melihat jalannya, hampir seperti tidak pernah hujan disini. Walaupun begitu, saya enggan untuk melepaskan jas hujan istimewa ini karena saya pikir mungkin nanti akan hujan kembali.

Perjalanan pun dilanjutkan, waktu menunjukan pukul setengah 7 malam dan saya pun masih berada di jalan Gaut-Tasikmalaya. Benar saja, hujan pun turun kembali. Untung jas hujan ga gw lepas. Kondisi jalan tersebut cukup bagus dengan pembatas jalan yang menandai akan adanya jurang di satu sisi dan juga menandai adanya gunung di sisi lainnya, akan tetapi kondisi penerangan jalan tersebut kurang baik. Saya memperlambat laju kendaraan saya karena saya khawatir hal yang tidak diinginkan terjadi melihat kondisi jalan yang licin dan gelap; dan kadang ada truk besar yang lewat. Sekitar jam 7 malam, saya memutuskan untuk berhenti di mesjid untuk shalat dan beristirahat. Saya pun tidak lupa untuk memberi tahu Yosep bahwa saya masih dalam perjalanan menuju rumahnya.

Sekitar pukul 8 malam, saya memutuskan untuk melanjutkan kembali perjalanan ini. Saya berpikir bahwa perjalanan (dengan menggunakan motor sendirian) malam atau terlalu malam lebih besar risikonya dibandingkan dengan perjalanan siang hari. Saya pun waspada akan adanya begal karena jalan yang saya lewati sangatlah sepi dan minim pencahayaan. Dengan kecepatan yang lumayan cepat (ga terlalu cepet juga sih wkwkwk), saya pun melesat.

Ada satu hal yang tidak bisa saya lupakan. Dikarenakan di dalam perjalanan tersebut saya percaya kepada Google Maps sebagai penunjuk jalan, jalan berbatu (tidak diaspal) pun saya terobos dan hampir tanjakan tanah yang mungkin hanya bisa dilalui oleh motor trail pun hampir saya terobos karena Google Maps (ketololan wkwkwkwk). Saya menyadari bahwa saya melalui jalan yang salah ketika saya menggunakan alat navigasi kedua yaitu BERTANYA KEPADA PENDUDUK SEKITAR. Saya pun selamat (karena sangat sepi/jarang ada orang dan gelap/sangat minim penerangan) kembali kepada jalan yang benar wkwkwkwkwk.

Setelah saya kembali ke jalan yang benar, saya pun merasa sedikit lega karena mungkin si oom Google Mapsnya sudah bisa mendapatkan sinyal GPS kembali (jadi gw dibodohi sama si oom). Perjalanan pun dilanjutkan dengan melewati jalanan beraspal dan tidak jarang pula melewati jalanan berbatu dan jalanan rusak. Cuaca yang saya rasakan ketika perjalanan itu adalah dingin berkabut. Jarak pandang mata saya hanya sejauh lampu jauh motor menyorot. Tidak lama kemudian sekitar pukul 9/setengah 10 malam, saya pun berhasil sampai di rumah Yosep.

Bersantai di Sodong Hilir dan Pantai Cipatujah

Hari berikutnya, saya diajak oleh Yosep ke pantai Cipatujah yang ditempuh sekitar 1 jam dari Sodong hilir. Di pantai tersebut saya melihat para nelayan yang baru mendapatkan ikan dan masuk ke dalam proses pelelangan. Saya baru pertama kali melihat proses pelelangan hasil tangkapan laut. Disana saya bertemu dengan paman dari Yosep yang kerap mengikuti proses lelang. Kami pun diberi satu ikan pari sedang (tadinya mau dikasih banyak ikan lainnya tapi nunggunya lama).
Perahu-perahu nelayan di pantai Cipatujah

Pelelangan hasil laut
Ikan pari hasil dari pelelangan
Bakar ikan sendiri
Makan juga sendiri di pantai (ga deng ada yang motoin wkwkwkwk)
Berbeda dengan Cipatujah dimana cuacanya panas karena berada di pantai, Sodong hilir memiliki cuaca yang dingin karena berada di pegunungan. Kita juga bisa melihat lembah yang diselimuti oleh kabut (kayak di pilem2). Disini saya banyak menghabiskan waktu dengan berada di rumah Yosep dengan mengobrol, bersantai, melihat kebun dan balong (bahasa sunda dari kolam) di belakang rumah, dan lainnya. Saya lebih kepada menikmati suasana rumah dan budaya (bukan berarti yang heboh-heboh, tapi kebiasaan orang Sodong hilir dalam menjalani hidupnya) di Sodong hilir. Internet pun secara wireless sudah masuk ke daerah sini tapi masih sedikit yang memanfaatkannya. Sebagian besar penduduk disini memiliki kebun sendiri ataupun sawah sendiri. Makanya kalo disini makanan pasti ada karena langsung dapet dari alam. Saya senang berada disana karena kehidupan mereka ga neko-neko alias sederhana tapi bahagia. Sayangnya, saya hanya bisa tinggal 3 hari saja disana karena masih ada janji lain yang harus ditepati. Semoga kedepannya bisa kesana lagi dan eksplor lebih jauh tentang tempat dan juga budaya sekitar. Aamiin.
Momotoran!!
Pemandangan dari Sodong Hilir
Pemandangan di tengah perjalanan menuju Cipatujah. Salah satu alat pancing yang unik yang ingin saya coba.
Pemandangan di Salawi sewaktu perjalanan pulang menuju Bandung.