Tuesday, September 27, 2016

AOE: Bangkok Hari #5 (Pulang!!!)

Tragedi terjebak di Pattaya membuat kami harus bangun sepagi mungkin dan membeli tiket travel paling awal menuju Bangkok. Hanya bermodalkan air mineral sebagai sarapan, kami langsung berangkat menuju pool travel terdekat. Penjaga pool travel sudah stand-by sewaktu kami sampai di pool tersebut dan kami langsung membeli tiket tanpa berpikir panjang. Kami hanya menunggu beberapa menit sampai keberangkatan travel. Beruntungnya kami karena kami tiba di saat yang tepat. Kami lega karena akhirnya kami bisa pulang ke Bangkok setelah kejadian ketinggalan travel kemarin. Kami pun bisa melanjutkan istirahat kami (tidur) sampai benar-benar tiba di tujuan.
Pattaya beach

Walking street di pagi hari

Pool travel 
Tiket untuk ke Bangkok. Looks awful, rigtht?
Sampai di pool dekat stasiun Victory Monument, kami langsung naik BTS menuju stasiun Surasak (stasiun terdekat dengan penginapan kami) karena kami harus bersiap-siap untuk check out. Tiba di penginapan pada jam setengah 12, benar saja, kami diminta untuk segera checkout (diberi waktu sampai jam 12 siang). Kami berusaha untuk bernegosiasi mengenai jam check out dan untungnya, kami berhasil mendapat waktu tambahan sampai jam setengah 1. Kami pun langsung packing dan bersiap-siap dengan sangat cepat untuk check out pada waktu yang telah diberikan.

Di hari terakhir dalam perjalanan ini, kami ingin mencoba kembali mengunjungi Zense, sebuah restoran di lantai 17 mall Central World. Barang-barang kami dititipkan di lobi penginapan agar tidak rumit perjalanannya. Sebelum menuju ke Zense, kami makan terlebih dahulu di foodcourt Central World. Kami sengaja mengisi perut kami dulu agar sewaktu pesan makanan atau minuman di Zense, kami tidak merasa sangat lapar dan porsi makanannya mencukupi untuk kami semua (mengingat biasanya porsi makanan di restoran kadang tidak sesuai harapan alias sedikit). Seperti yang sudah kami duga bahwa harga makanan di foodcourt mall ini cukup murah. Sepertinya memang harga makanan foodcourt di mall-mall di Bangkok memang murah, bahkan beberapa lebih murah dibandingkan harga makanan di pinggir jalan. Kami pun langsung menyantap makanan kami masing-masing. Makanan favorit kami adalah Tomyum. Hampir di setiap makan siang kami Tomyum tidak pernah terlewatkan. Selain itu, kami juga memesan Durian sticky rice. Hidangannya sangat mirip dengan Mango Sticky Rice tetapi memakai Durian dan santen kelapa. Prinsip saya adalah ketika sedang traveling wajib hukumnya untuk mencoba makanan yang belum pernah dicoba. Well, that's one of those!
Walau sederhana tapi membuat bahagia :D
Setelah kami merasa cukup kenyang, kami segera bergegas menuju Zense yang kebetulan berada di mall yang sama. Kami harus menaiki lift terlebih dahulu sampai ke lantai 17 untuk menuju ke tempat tersebut. Ketika sampai disana, kami hanya melihat seorang laki-laki yang sedang duduk di area seperti resepsionis. Tempat tersebut tidak terlihat seperti sebuah restoran. Kami sama sekali tidak melihat adanya peralatan atau meja dan kursi seperti halnya sebuah restoran. Penasaran dengan tempat tersebut, kami bertanya kepada laki-laki disana. Laki-laki tersebut memberitahu kami bahwa Zense buka jam 6 sore, sedangkan kami kesana sekitar jam 2 siang. WAKWAWWWW..... Another dissapointment! Kekecewaan lain karena kami mendapatkan informasi dari internet ada yang mengatakan bahwa Zense buka dari siang. Ternyata semua itu salah. Kami tidak memiliki pilihan apapun selain kembali ke dalam mall dan membuat rencana baru.

Kekecewaan tersebut membuat kami harus memutar otak untuk menghabiskan waktu sebelum pulang ke Jakarta. Kebetulan kami mendapatkan rekomendasi dari seorang teman di Indonesia tentang sebuah tempat dessert yang enak di Central World, Kyo Roll En. You know what? Ya, kami langsung kesana. Lumayan, bisa mencoba makanan yang (mungkin) tidak ada di Indonesia sambil menghabiskan waktu.

Dessert yang berasal dari Korea Selatan ini memiliki pilihan dessert yang unik dan menggiurkan. Racikan dari tangan sang ahli racik berhasil membuat kami semua tertarik untuk mencobanya. Alhasil, kami memesan 2 hidangan rekomendasi dari sang waitress (lupa namanya). Tidak lupa, kami pun mengambil gambar dari hidangan tersebut. Soal rasa, seperti yang bisa diduga, rasanya enak. Apabila anda tahu rasa Patbingsu, hidangan ini lebih enak dari itu (pendapat pribadi). Pada dasarnya memang hidangan disini adalah Patbingsu yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi hidangan yang berbeda secara penamaan dan jenisnya. Saya pribadi kagum dengan ide kreatif si pemilik usaha ini. Hidangan yang tadinya mungkin menurut orang sudah biasa bisa menjadi fresh kembali dengan sentuhan tersebut.


Selesai menikmati dessert, kami langsung pulang ke penginapan untuk mengambil barang-barang kami yang sebelumnya dititipkan. Dari penginapan, kami langsung menuju Bandara Don Mueang dengan menggunakan Uber mobil. Perjalanan menuju bandara dipenuhi dengan rasa cemas karena kemacetan yang terjadi. Kami khawatir akan ketinggalan pesawat. Bangkok memang terkenal dengan kemacetannya, tapi jangan dibandingkan demgan Jakarta karena di Jakarta mungkin lebih parah. Sang supir Uber pun ikut merasa cemas dan dengan gigihnya berusaha untuk secepat mungkin menuju ke bandara. Spare waktu yang kami sediakan adalah sekitar 3.5 jam sebelum keberangkatan. 1 jam berlalu tapi kami belum terbebas dari kemacetan. Kami hanya bisa berdoa dan pasrah. Tidak ada hal yang bisa kami lakukan lagi karena hampir semua jalan terlihat macet. Tapi tidak lama kemudian tak disangka-sangka, doa kami pun dikabulkan oleh Tuhan. Jalanan yang tadinya macet akhirnya mulai terurai. Mobil kami pun mulai bergerak perlahan-lahan hingga mencapai jalan tol yang kami tunggu-tunggu. Selepas masuk ke jalan tol, kami langsung melesat dengan cepat. Tidak lebih dari 20 menit, kami akhirnya sampai di bandara Don Mueang. Alhamdulillah, doa kami dikabulkan sehingga tidak telat ke pesawat. Kami pun akhirnya pulang dengan tenang.

Perjalanan ke Bangkok akhirnya selesai. Walaupun ada beberapa hal yang mengecewakan karena tidak sesuai ekspetasi kami, tapi kami tetap menikmati setiap perjalanan disana. That's the most important thing of travelling! See you on another journey!!

ps: Kami secara tidak sengaja bertemu dengan Richo Kyle 'My Trip My Adventure' yang ternyata duduk tepat di belakang kami, tapi tidak berani minta foto karena kelihatannya dia sedang lelah. LOL
A wall at Central World. full of great art from Jeremyville community service.


Saturday, September 24, 2016

AOE: Bangkok Hari #4 (Pattaya!!)

Bangkok merupakan salah satu destinasi favorit para turis, khususnya Indonesia. Bangkok memiliki berbagai macam daya tarik antara lain pusat perbelanjaan (mall, weekend market, night market), temple, makanan jalanan (street food), bar, dan banyak lagi. Setiap turis memiliki tujuan wisata masing-masing yang pastinya juga berbeda-beda. Tujuan wisata kami sebenarnya lebih umum, tidak hanya mengacu kepada satu aspek karena kami ingin mengenal Thailand terutama Bangkok. Beberapa jenis makanan sudah pernah kami cicipi termasuk makanan ekstrim. Pusat perbelanjaan juga sudah kami rasakan. Temple pun sudah kami datangi walaupun hanya 1 temple. Ada satu jenis wisata yang belum pernah kami coba di Bangkok. Kami masih penasaran dengan pantai di sekitar Bangkok dan juga ladyboy!! Salah satu tempat yang cocok untuk wisata seperti itu adalah Pattaya. Walaupun berada di luar Bangkok, Pattaya merupakan salah satu destinasi favorit para turis yang sedang liburan ke Bangkok. Perjalanan dari Bangkok menuju Pattaya dengan menggunakan mobil memakan waktu sekitar 2 jam. Ya mirip Jakarta-Bandung. Jadi, Pattaya memang dekat dengan Bangkok dan bisa dikunjungi dalam satu hari perjalanan.

Di hari keempat ini kami berkunjung ke Pattaya untuk memenuhi rasa penasaran kami. Di malam sebelumnya, kami sudah melakukan riset tentang Pattaya. Untuk menuju kesana, kami harus menaiki mobil travel yang berada di dekat beberapa stasiun BTS (Mo Chit, Victory Monument). Kami memilih travel di dekat stasiun Victory Monument karena travel disini termasuk salah satu travel yang termurah diantara travel yang lainnya. Harga yang ditawarkan sekali jalan menuju atau dari Pattaya adalah THB 100/orang. Harga yang cukup murah untuk perjalanan 2 jam.

Di hari tersebut, kami terlambat untuk bangun. Mungkin karena lelah dengan perjalanan di hari sebelumnya yang memang banyak melakukan jalan kaki. Kami baru bangun sekitar jam 11 siang!! Ditambah dengan persiapan, kami baru berangkat sekitar jam setengah 2 dan sampai di pool travel sekitar jam 2 lebih. Sayangnya karena hal tersebut, kami harus ikut travel jam 3 karena travel jam 2 sudah berangkat. Kami merasa jadwal tersebut terlalu lama. Akhirnya kami pun mencari travel lain yang kebetulan berada tepat disebelah travel yang tadi. Harganya tidak beda jauh, tapi disini ada jadwal jam setengah 3 (which is lebih sebentar untuk menunggu). Kami tidak berpikir lama untuk membeli langsung tiket tersebut. Tiket yang akan membawa kami ke Pattaya, tempat hiburan paling terkenal di Thailand.

Sesuai dengan perkiraan, perjalanan menuju Pattaya memakan waktu sekitar 2 jam. Kami sampai di Pattaya sekitar jam 5. Pool travel kami sangat dekat dengan pusat hiburan Pattaya yaitu Walking Street. Disana kami melihat banyak sekali tempat pijit, penginapan, bar, dan juga restoran tetapi jarang sekali yang sudah buka. Hal ini memang wajar karena seperti halnya Khao San road, Pattaya juga "hidup"-nya hanya di malam hari. Sembari kami menunggu malam hari, kami berjalan kaki menuju pantai terdekat (Pattaya beach) untuk melihat sunset. Kami berjalan sekitar 2-3 km dari Walking Street untuk menuju kesana. Tiba di pantai dengan pasir yang putih tersebut, kami menyewa sebuah tiker sebagai tempat kami duduk dan bersantai. Sambil menikmati sunset, kami juga tidak melewatkan momen untuk foto-foto disana hingga malam hari. Ada satu momen aneh yang terjadi di pantai tersebut. Ketika kami sedang berbaring/bersantai, ada satu benda cukup besar (karena kami mendengar suaranya ketika jatuh) yang mengenai mulut salah seorang dari kami. Ketika kami cari benda tersebut, kami tidak berhasil menemukannya. Tidak ada sama sekali benda kecil maupun besar di sekitar tempat kami berbaring. Kami juga melihat daerah sekitar sana, khawatir ada orang iseng yang melempar benda. Ternyata tidak ada juga orang yang kami curigai, tapi walaupun begitu, seharusnya benda yang jatuh mengenai mulut teman kami ada di sekitar sana. Sangat aneh. Hal tersebut membuat kami menyudahi momen bersantai di pantainya. Mungkin memang sudah diusir oleh yang menunggu disana. Fufufufu...
iDiot. LOL
Gaya andalan :D
Malam-malam masih bersantai di pantai sampai akhirnya diusir oleh sesuatu. -___-

Tujuan kami selanjutnya adalah kembali lagi ke Walking Street untuk merasakan suasana disana pada malam hari. Sebelum menuju kesana, kami mencari makan terlebih dahulu. Seperti biasa, kami melakukan survey tempat makan terlebih dahulu hingga akhirnya kami bisa memilih salah satu restoran dengan nama yang ditulis oleh tulisan Thailand dan juga memiliki penerima tamu yang sangat baik dan juga lucu. Disana kami memesan makanan cukup banyak karena kami rencananya ingin bayar dengan menggunakan kartu kredit. Makanan yang kami pesan seperti ayam goreng 1 ekor, Tomyum, Papaya Salad, Spring Roll, jus semangka, Thai tea, dan Camomile tea. Rasanya? Luar biasa enaknya!! Bukannya berlebihan tapi memang enak terutama makanan yang baru pertama kali kami coba yatu Papaya Salad. Kami berhasil menghabiskan semua makanan dengan lahap. Kami kira harga di sebuah restoran yang terletak dekat dengan pusat hiburan sangat mahal, tapi kami salah (lagi). Harga disini termasuk murah jika dilihat dari kualitas dan juga porsinya. Semua makanan dan minuman tadi berharga THB 700 (sekitar IDR 280.000 atau IDR 70.000 per orangnya). Thailand memang surganya makanan enak dan murah!!!!

Singkat cerita, kami akhirnya puas dengan makan malam kami dan hendak untuk membayar. Ketika kami mencari kartu kredit yang akan dipakai untuk membayar tagihan makanan, 1.................2..................3..................KARTU KREDIT KAMI TERTINGGAL DI BANGKOKKK!!!!!! JENGJENG!!! Momen panik langsung menyerbu. Otak langsung bekerja keras. Imajinasi-imajinasi pun langsung memasuki otak kami. Bagaimana kalo kami tidak bisa membayar? Bagaimana kalo kami tidak bisa pulang? Bagaimana kalo ini? Bagaimana kalo itu? Kami pun terdiam karena shock atas tragedi tersebut. Kami langsung menghitung uang kas yang kami bawa dengan cepat. Beruntungnya, setelah dihitung, ternyata uang kas kami masih cukup untuk menutupi biaya makan malam plus biaya pulang, itupun masih ada sisanya. Lega rasanya bisa menyelesaikan masalah tersebut. Alhamdulillah.
Have a great dinner
280 ribu untuk semua ini? I think it's freakin cheap!
Pha, sang penerima tamu yang membuat kami yakin untuk makan malam disini

Selesai urusan di restoran, kami langsung menuju Walking Street. Pada perjalanan menuju kesana, kami melihat pedagang, restoran, dan keramaian turis di sepanjang jalan. Suasana disana sangatlah ramai. Ada juga orang yang menawarkan "ping-pong" show, sebuah pertunjukan untuk orang dewasa yang diadakan di bar-bar tertentu. WOW!! Hahaha... Mengerikan!! Begitu tiba di Walking Street, seperti yang kami duga sebelumnya, suasana disini berbeda 180 derajat dengan waktu siang hari. Pada waktu siang, tempat ini sepi karena belum ada yang buka, tetapi pada waktu malam, tempat ini sangatlah ramai dipenuhi oleh lampu-lampu bar dan juga orang-orang di tengah jalan. Banyak perempuan menggunakan kostum mirip dengan bikini yang menjadi SPG dari barnya masing-masing. Mereka menawarkan para turis untuk mengunjungi dan bersantai di bar mereka. Setiap kami melihat perempuan yang berdandan seperti itu, pasti ada satu pertanyaan di dalam benak kami. Apa benar itu perempuan asli? Disana kami tidak bisa membedakan antara Ladyboy dan perempuan asli karena secara fisik mereka hampir sama. Ditambah lagi suasana yang benar-benar ramai membuat kami sulit untuk membedakannya. Pattaya memang terkenal dengan hiburan yang seperti ini, tapi kami tidak pernah menyangka akan se-vulgar ini. Hahaha...

Kami sendiri tidak masuk ke dalam bar ataupun tempat hiburan lainnya karena waktu kami yang terbatas. Walaupun begitu, kami tidak melewatkan untuk berfoto di area Walking Street.

Masih shock melihat daerah ini. LOL
Travel paling malam menuju Bangkok adalah jam 11 malam. Pada saat itu, kami berada di Walking Street sekitar pukul 10 malam. Kami tidak mau ketinggalan travel terakhir karena kami harus packing dan check-out dari penginapan pada esok hari. Dengan terburu-buru kami berjalan menuju pool travel terdekat. Begitu sampai disana, pool tersebut sudah tutup walaupun kami sampai sebelum pemberangkatan terakhir (11 malam). Kami menanyakan orang sekitar dan mereka memberitahu kami bahwa travelnya sudah tutup karena ternyata untuk pemberangkatan terakhir, kami harus beli tiket setidaknya pada jam 8 malam. Kami mencoba untuk mencari travel lain namun usaha kami sia-sia. Semua travel sudah tutup pada jam tersebut. Bus umum juga sudah tidak ada yang beroperasi pada jam tersebut. Apes banget!! Kami pun duduk dan berpikir sejenak sambil menghitung sisa uang kami. Kami memiliki beberapa alternatif untuk menghabiskan malam di Pattaya.


1. Kami menghabiskan malam tersebut di bar karena sepertinya bar di Pattaya beroperasi sepanjang malam.
2. Kami menghabiskan waktu di McDonalds dengan tidur bergantian.
3. Kami menyewa penginapan murah untuk 4 orang dengan biaya yang pastinya lebih mahal dari kedua pilihan diatas.

Pilihan yang paling aman adalah pilihan nomor 3 tapi dengan situasi seperti itu (jam 11 malam belum booking/mendadak); sangatlah susah untuk mencari yang sesuai dengan yang diharapkan. Kami tidak menyaerah begitu saja. Kami tahu pilihan ketiga sangat susah untuk direalisasikan tapi kami tetap mencoba untuk mencari penginapan murah di sekitar Pattaya dan apabila setelah kami coba ternyata masih gagal, kami akan memilih pilihan nomor 2. Berkeliling selama hampir setengah jam, kami gagal menemukan penginapan sesuai harapan kami. Banyak penginapan yang kosong tapi harganya juga mahal, melebihi budget yang kita punya. Akhirnya kami melakukan cara terakhir yaitu berpencar menjadi 2 grup yang masing-masing grupnya terdiri dari 2 orang. Apabila cara ini gagal juga, kami dengan terpaksa memilih pilihan nomor 2, menginap di McDonalds dengan bermodalkan beli makanan dan tidur bergantian. Grup saya berjalan menelusuri beberapa bar yang dipenuhi oleh ladyboy dan beberapa bar yang dipenuhi oleh para lelaki topless. WTH?! Ternyata Pattaya lebih parah dari yang saya bayangkan. Ketika melewati jalan tersebut, saya sempat digodai oleh para ladyboy sampai dicolek-colek!! Hahhaha... Saya tetap tenang dan bersikap senormal mungkin. Mereka berpenampilan cantik untuk ukuran ladyboy. Entah kenapa saya tidak takut sama sekali berhadapan dengan ladyboy, mungkin karena sewaktu di Bandung saya sering digodai oleh para waria. Jadi sudah terbiasa. Hahahah....

Usaha kami untuk berpencar akhirnya membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan kami. Kami mendapatkan sebuah penginapan dengan harga THB 500 dan tidak ada batasan jumlah orang per kamarnya. Fasilitas yang ditawarkan juga cukup wah. Kamar yang kami sewa memiliki ruangan yang luas, kamar mandi di dalam, AC, TV, dan juga disediakan air mineral. Keajaiban terjadi lagi. Alhamdulillah. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, kami langsung mandi dan beristirahat karena besok kami harus melanjutkan perjalanan menuju Bangkok pada pagi hari. Perjalanan kami menuju Pattaya ini terlihat berantakan tapi kami sangat bersyukur karena kami telah ditolong beberapa kali atas masalah yang kami hadapi oleh Tuhan. Kami juga sangat menikmati perjalanan kami tersebut karena kami banyak melihat hal baru disini. Kami melihat suatu area hiburan yang benar-benar vulgar dan memang menjadi daya tarik pariwisata disana. I was like "What the hell?!". Walaupun begitu, semua pengalaman tersebut hanya sekedar untuk menambah wawasan dan pengalaman kami saja. Hanya sekedar untuk memenuhi rasa penasaran kami saja. Hanya sekedar untuk membuka mata bahwa "Ternyata ada loh pariwisata 'dewasa' yang vulgar dan menjadi daya tarik utama suatu tempat". Hahaha...Ok then, see on our last day in Bangkok!!!

Friday, September 23, 2016

AOE: Bangkok Hari #3

Pada hari ketiga, kami memiliki rencana untuk mengunjungi beberapa tempat misteri seperti kuil "Mae Nak Phra Khannong", Bis misteri bernama "Soi Sai Yud", dan mall Mansion 7; dan juga tempat lain yang dekat dengan stasiun BTS sembari menghabiskan jatah trip Rabbit card yang masih tersisa banyak. Kebetulan tempat-tempat tersebut dekat dengan stasiun BTS ataupun MRT apabila dilihat dari peta. Kami ingin mengaplikasikan peribahasa "sambil menyelam, minum air" Hehehe... Bangun pada pukul 08.00, kami langsung siap-siap untuk berangkat menuju kuil Mae Nak di Phra Khannong. Untuk menuju kesana, kami harus menggukanan BTS sampai stasiun Phra Khannong yang berjarak 12 stasiun plus 1 kali transit. Perjalanan menuju kesana memakan waktu sekitar 15-30 menit dan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan. Begitu sampai, kami langsung melanjutkan perjalanan kami dengan mengandalkan Google Maps dan juga peta yang tersedia di sekitar stasiun. Jarak dari stasiun menuju kuilnya sekitar 1 km. Bisa saja kami jalan kaki kesana, tapi panas terik membuat kami membatalkan niat tersebut dan memilih untuk menggunakan Uber. Setelah menunggu sekitar 5 menit, akhirnya Uber kami pun datang dan langsung berangkat menuju tempat tujuan. Di dalam perjalanan menuju kesana, kami penasaran tentang hawa yang akan dirasakan ketika kami mengunjungi kuil tersebut. Alasan kami memilih kuil ini karena kami sangat suka dengan film Thailand berjudul "Pee Mak" yang menceritakan tentang kisah misteri Mae Nak, seorang istri yang sedang hamil dan ditinggal oleh suaminya untuk berperang yang nantinya istri dan anaknya tersebut meninggal dan gentayangan di daerah sekitar rumahnya. Anehnya, film horror tersebut dikemas dengan campuran komedi yang membuat kita semua tertawa. Keunikan ini yang membuat kami menyukai film tersebut.

Mae Nak Phra Khannong

Setelah sampai di kuil Mae Nak, kami melihat daerah sekitar sana. Ada yang menjual berbagai macam pernak-pernik, berbagai macam ikan sampai belut, dan juga makanan. Memang terlihat bahwa daerah tersebut menjadi daerah wisata para turis lokal. Kami sama sekali tidak melihat adanya turis internasional di daerah tersebut. Bahkan turis lokalnya pun sangat sedikit. Orang-orang yang datang ke kuil tersebut kebanyakan adalah orang-orang yang meminta restu dari sebuah patung seorang wanita yang dipercaya adalah Mae Nak yang terletak di dalam kuil tersebut. Terlihat juga di pagar kuil larangan mengambil gambar. Tidak dijelaskan apakah larangan tersebut berlaku hanya di dalam kuil saja atau di sekitar kuil juga. Jadi, kami dengan polos mengambil gambar dari luar kuil karena persepsi kami semua, mengatakan bahwa larangan tersebut hanya untuk di dalam kuil saja. Hawa disana juga memang sedikit berbeda. Mungkin hal tersebut dikarenakan oleh orang-orang disana yang mempercayai legenda ini sehingga memberikan aura mistis kepada tempat tersebut. Kami juga sempat meminta tolong kepada orang sekitar untuk mengambilkan foto kami semua dari luar kuil, tapi orang yang kami mintai tolong tidak berani untuk melakukannya. Dia langsung menolak permintaan kami mentah-mentah. Jadi, kami terpaksa berselfie dari jarak yang cukup jauh untuk sekedar dokumentasi.
Kuil Mae Nak Phra Khannong
Setelah puas menikmati kuil Mae Nak, kami pun melanjutkan perjalanan menuju bis misteri "Soi Sai Yud" dengan menggunakan Uber sampai stasiun terdekat yang nantinya dilanjutkan dengan menggunakan BTS dan MRT. Kali ini, Uber yang kami pesan cukup lama datangnya. Kami harus menunggu sekitar 30-45 menit. Mungkin karena tempat pemesanan kami yang agak rumit jalannya. Rencana kami untuk menuju bus "Soi Sai Yud" pun kami rubah menjadi ke mall Terminal 21 untuk makan siang terlebih dahulu karena waktu menunjukan pukul 1 siang dan kami semua memang sudah lapar. Kami harus turun di stasiun Asok yang hanya berjarak 4 stasiun dari Phra Khannong. Sesampainya disana, kami langsung survey tempat makan yang enak dan murah. Kami melihat ada Tudari (salah satu restoran Korea yang terkenal), ada juga restoran Thailand yang khas, dan juga ada foodcourt. Harga yang ditawarkan di restoran yang tersedia memang tidak terlalu mahal dan juga tidak terlalu murah. Masih bisa dimaklumi karena restoran-restoran ini berada di dalam mall. Berbeda dengan restoran yang ada, makanan di foodcourt membuat kami semua terkejut karena memiliki banyak pilihan dan juga harganya murah untuk kami. Biasanya makanan di area mall lebih mahal dari makanan di luar mall walaupun foodcourt. Bayangkan saja jus buah (ada beberapa pilihan) di foodcourt ini dijual seharga THB 10 Begitu pun dengan makanannya, Tomyum dijual seharga THB 30 (IDR 12.000). Tidak kecewa kami mengunjungi mall ini. Salah satu tempat yang harus dikunjungi apalagi sewaktu uang sedang seret :D
Untuk membeli makanan di foodcourt Terminal 21, kami harus menukarkan uang dengan kartu pra bayar ini.
Tomyum ala foodcourd Terminal 21

"Golden Gate bridge" ternyata ada juga di Thailand! LOL
Setelah perut kenyang dengan berbagai macam makanan, kami melanjutkan perjalanan menuju Bangkok Art & Cultural Center (BACC). Tempat ini merupakan sebuah gallery seni terutama seni lukis yang hampir di setiap sisinya ada toko seni yang bisa dibeli oleh pelanggan. Terdapat banyak lukisan yang terpajang di dinding sekitar area BACC. Walaupun kami mungkin hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang seni, tapi kami tetap bersikeras ke tempat ini karena dekat dengan stasiun dan juga cocok untuk foto-foto. Sayangnya, kami hanya memiliki sedikit waktu untuk foto-foto disana karena kami memiliki jadwal untuk mengunjungi "Zense", sebuah restoran yang berada di lantai 17 dari mall Central World; pada saat sunset. Sewaktu kami keluar dari BACC untuk menuju ke stasiun, kami melihat cuaca yang tadinya cerah, sekarang malah hujan deras. Hal tersebut membuat kami sedikit kecewa karena pemandangan di rooftop akan menjadi kurang indah apabila hujan ataupun mendung. Kami pun berdiskusi mencari solusi bersama. Beberapa menit berlalu dan kami akhirnya memutuskan untuk mencoba mengunjungi rooftop tanpa peduli bagaimana cuacanya. At least we try and witness with our own eyes. Perjalanan menuju stasiun terdekat dengan Central World (Siam) hanya berjarak 1 stasiun dari stasiun National Stadium. Begitu sampai, kami harus berjalan sekitar 1 km dengan menggunakan jembatan khusus pedestrian. Awalnya kami masih bersemangat untuk berjalan menuju Central World karena hujan pun akhirnya berhenti. Di pertengahan jalan, kami berpikir ulang. Pada saat itu, cuaca masih mendung/tertutup awan walaupun hujan sudah berhenti. Kami berpikir bahwa nanti sewaktu kami berada di rooftop, kami tidak akan mendapatkan pemandangan sunset seperti harapan kami karena cuaca yang tidak mendukung. Ditambah lagi, area rooftop yang terbuka membuat lantai di rooftop basah karena hujan. Akhirnya kami menyerah dan mengganti tujuan menuju Chinatown/Yaoswarat road untuk makan malam.
BACC sebagai salah satu tempat wisata di Bangkok

We're messed up!!

Sebelum menuju ke Chinatown, kami sempat menukarkan uang terlebih dahulu karena uang Baht yang kami miliki kemungkinan sudah tidak akan cukup untuk biaya hari berikutnya. Untungnya diantara kami ada yang membawa uang dollar. Walaupun tidak banyak tapi dollar tersebut telah menyelamatkan kami. Kami menukarkan dollar tersebut di money changer yang berada di stasiun BTS. Hampir setiap stasiun BTS memang terdapat money changer.
Uang terakhir kami sebelum kembali menukarkan uang. THB 900 untuk 4 orang dan tersisa 2 hari lagi untuk hidup di Bangkok.

Untuk menuju ke Chinatown/Yaoswarat road, kami harus menaiki BTS terlebih dulu dari stasiun Siam menuju stasiun Sala Daeng. Setelah itu, kami harus menaiki MRT dari stasiun Si Lom menuju stasiun Hua Lamphong. Untuk menaiki MRT, kami harus membeli tiket lagi karena Rabbit card hanya mencover biaya BTS saja. Kami pun mencoba membeli tiket di ticket machine. Biaya untuk perjalanan tersebut (berjarak 2 stasiun) adalah THB 16 (+-IDR 6000). Biaya yang wajar untuk suatu Mass Rapid Transportation. Tiket yang keluar dari mesin tersebut bukan berupa kertas, kartu, ataupun lembaran seperti tiket pada umumnya, tapi koin plastik. Bukan pertama kalinya saya pribadi melihat tiket dalam bentuk koin pastik. Sebelumnya saya pernah melihatya di MRT New Delhi. Walaupun berbeda bentuk dari tiket pada umumnya, tapi cara kerjanya sama. Tiket hanya perlu untuk di-tap ketika masuk dan keluar sama seperti tiket lainnya.

MRT di Bangkok terlihat lebih sedikit yang menggunakan bila dibandingkan dengan BTS. Mungkin juga karena stasiunnya yang lebih sedikit daripada stasiun pada BTS. Walaupun begitu, ada daerah seperti Yaoswarat road yang berada lebih dekat dengan stasiun MRT. Jadi setiap transportasi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Sewaktu kami sedang berjalan dari stasiun BTS Sala Daeng menuju stasiun MRT Si Lom, kami melihat ada seorang tuna netra meminta tolong kepada salah seorang warga. Sayangnya, warga tersebut enggan untuk membantunya. Salah satu dari kami dengan sigap langsung mencoba menanyakan apa yang dibutuhkan sang tuna netra tersebut. Walaupun kami berbicara dengan bahasa yang berbeda, tapi dari gestur tubuhnya kami bisa menebak bahwa bapak tersebut ingin meminta tolong untuk diantarkan ke stasiun MRT. Jarak dari tempat kami berada menuju stasiun MRT sekitar lebih dari seratus meter. Maka dari itu, kami memutuskan untuk menolongnya mengingat kami juga sedang menuju kesana. Begitu sampai di stasiun, kami meminta tolong kepada petugas setempat untuk membantu bapak tersebut. Si bapak sangat berterima kasih kepada kami. Kami merasa senang bisa membantu bapak tersebut.

Perjalanan kami menuju stasiun MRT Hua Lamphong pun terkesan cukup singkat karena hanya membutuhkan 5-10 menit. Begitu sampai, kami langsung memesan tuk-tuk untuk menlanjutkan perjalanan sisanya (+-1.4 km). Sampai di tempat tujuan, kami mencoba untuk berkeliling terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk makan malam disana. Awalnya kami mengira bahwa Chinatown di Bangkok ini mirip dengan Chinatown di Sydney yang memiliki kawasan khusus untuk pata pejalan kaki. Ternyata perkiraan kami salah. Yaoswarat road adalah sebuah jalan besar yang dilalui banyak kendaraaan. Tempat ini disebut Chinatown karena di pinggir jalan besar tersebut banyak terdapat toko dan restoran China. Selain itu, di jalan trotoar juga terdapat banyak penjual makanan khas China, tapi tidak ada area khusus pejalan kaki seperti di Chinatown Sydney. Walaupun begitu, kami kurang tertarik untuk makan malam disana karena menu yang kurang menarik dan juga tempat yang terkesan agak sempit karena terdapat di area jalan trotoar. Itu menurut kami ya, mungkin pendapat kalian berbeda.

Kami sedikit kecewa karena tempat tersebut yang kurang sesuai dengan ekspetasi kami. Oleh karena itu, kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju mall Mansion 7 tanpa melakukan apa-apa di Chinatown. Kami berharap mendapatkan makan malam yang enak disana. Mansion 7 adalah sebuah mall yang memiliki jam operasional dari sore jam 18:00 sampai jam 00:00. Mall ini dikemas dengan tema horror dan juga pastinya memiliki rumah hantu sebagai area wahana yang dapat dimasuki oleh para pengunjung. Dengan menggunakan Uber (lagi), kali ini sang supir Uber terlihat sangat profesional. Dia cukup fasih berbahasa inggris. Kami menceritakan pengalaman kami selama di Bangkok. Ketika kami menceritakan pengalaman kami mengunjungi Khao San road, dia memberi saran untuk mengunjunginya lagi tapi di waktu malam hari karena jalan tersebut memang "hidup"-nya di malam hari. Kami cukup menyayangkan persiapan dan waktu kami yang kurang disana. Karena hal tersebut, kami tidak bisa menikmati daerah wisata pada waktu yang optimal seperti Khao San road. Kami sudah tidak memiliki rencana untuk mengunjunginya lagi karena kami sudah memiliki susunan rencana untuk hari tersebut dan juga beberapa hari ke depan. Kami hanya bisa berkata dalam hati, "Ya mudah-mudahan lain waktu kami bisa kesini lagi dengan persiapan yang lebih matang".

Kami mengobrol cukup banyak dengannya. Perjalanan pun tidak terasa karena begitu asyiknya kami mengobrol. Tiba di Mansion 7, kami dapat melihat dari luar tema mall yang unik dibalut dengan nuansa horror. Kami dengan bersemangat menanyakan kepada warga sekitar sana bagaimana cara masuk ke dalam mall tersebut karena kami melihat mall tersebut sepi dari luar. Seorang berwajah India yang menjadi sasaran bertanya kami karena lebih besar kemungkinan untuk berbahasa inggris. Begitu kami menanyakan, jawaban dari orang India tersebut membuat kami terdiam. Mall Mansion 7 yang ingin sekali kami kunjungi ternyata SUDAH TUTUP dari 3 BULAN YANG LALU!! Kami menanyakan alasan mengapa mall tersebut tutup tapi dia tidak tahu alasannya. Akhirnya kami masuk ke dalam mall kosong tersebut untuk melihat-lihat karena memang dibolehkan oleh petugas mall tersebut. Kami melihat ada beberapa meja bilyar, tempat duduk, meja bar, pajangan-pajangan horror, dan juga wahana rumah hantu. Tempatnya agak gelap remang-remang. Kami mengelilingi penasaran pada alasan kenapa mall ini ditutup. Kami mendekati wahana rumah hantu. Saya pribadi curiga mall ini tutup karena “suatu” alasan karena saya melihat wahana rumah hantu tersebut memang begitu menyeramkan. Seperti ada “sesuatu” yang sedang berada disana. Kami juga tidak berlama-lama disana karena selain merasa seram, kami juga lapar karena rencana makan malam kami kembali gagal.
Bagian dalam mall Mansion 7
Khao San road part 2

Dikarenakan rencana makan malam kami gagal lagi, kami akhirnya memutuskan untuk mengunjungi Khao San road untuk kedua kalinya. Sesuai dengan saran dari supir Uber sebelumnya, kami akhirnya menuju jalan tersebut untuk melihat Khao San road yang sebenarnya dan berharap untuk makan malam disana. Semoga rencana kami tidak gagal lagi. Untuk menuju kesana, pastinya kami menggunakan Uber lagi (bukan promosi tapi memang salah satu yang paling praktis disana) karena tidak ada stasiun BTS maupun stasiun MRT yang dekat dengan Mansion 7 atau Khao San road. Perjalanan memakan waktu sekitar 30-45 menit. Begitu sampai di Khao San road, perhatian kami langsung tertuju pada jalan terkenal tersebut. Kami melihat keramaian yang membuatnya sangat berbeda dengan di siang hari. Khao San road di malam hari seperti pesta tumpah (bukan pasar doang yang bisa tumpah Hehehe). Disana, kami langsung memesan beberapa jenis makanan seperti Pad Thai, kebab, dan lainnya karena L.A.P.A.R. Satu hal yang tidak akan kami lupakan disana yaitu mencoba makan hidangan ekstrim. Salah satu aktivitas yang terkenal di Bangkok adalah memakan hidangan ekstrim seperti kalajengking, tarantula, belalang, kumbang, larva, dan lainnya. Saya pribadi tertarik untuk mencoba hidangan ekstrim tersebut. Saya memilih belalang dan kalajengking untuk dimakan. Bukan cuma saya yang merasakan hidangan ekstrim tersebut tapi kami semua. Untuk kalajengking, harga jualnya cukup mahal. 1 ekor kalajengking dijual THB 100 (sekitar IDR 40.000) tapi bukanlah masalah untuk kami mengeluarkan harga segitu untuk sesuatu pengalaman yang tidak akan terlupakan. Bagaimana dengan rasa? Belalang rasanya seperti bawang goreng, nyaris tidak ada bedanya. Untuk kalajengking, rasa tangan dan ekornya agak pahit tapi bagian badannya hampir sama dengan rasa belalang. Kami pun menghabiskan semua hidangan ekstrim yang kami beli dan rasa penasaran kami (terutama saya) pun terpuaskan. Saya pribadi tidak pernah menyangka untuk mencicipi hidangan ekstrim seperti ini. Selain mencoba hidangan ekstrim, disana kami juga melihat banyak bar yang buka dilengkapi dengan lagu yang dimainkan dengan begitu keras layaknya tempat dugem. Tempat duduknya sampai tumpah ke jalan utama Khao San road. Bukan hanya sekedar menikmati minuman di bar, banyak turis juga yang borjoget ria di area Khao San road. Tidak ingin melewatkan momen tersebut, sebagian dari kami ada juga yang ikut berjoget. JOGET APAAA?? EEEEEEEE MACARENA!! AHA!!
Khao San road di malam hari

Tidak terasa waktu sudah larut malam. Kami menyudahi hari tersebut dengan pengalaman yang unik dan menyenangkan walaupun sebelumnya rencana kami gagal beberapa kali. Mungkin Tuhan memberikan ujian untuk pengalaman yang lebih berharga. Positive Thinking saja, toh akhirnya benar juga mendapatkan pengalaman yang belum pernah kami miliki sebelumnya. Ketika rencana yang kita buat di awal gagal atau tidak sesuai dengan perkiraan, janganlah mengeluh. Nikmati proses tersebut. Kegagalan tersebut adalah bagian dari traveling. Traveling is not about destination, it's about how you enjoy the trip whether it's succeeded or not.

See you on the 4th day!!

Thursday, September 22, 2016

AOE: Bangkok Hari #2

Hari kedua ini berbeda dengan hari pertama yang kerjaannya belanja (walaupun ada belanjanya juga sih :D). Rencana awal kami adalah:

- Mengunjungi Wat Pho dengan menumpangi perahu dari pier terdekat dengan penginapan.
- Makan siang di Khao San road.
- Mengunjungi Siriraj Medical Museum.
- Mengunjungi Wat Arun untuk hunting foto sunset.
- Dan terakhir, makan malam di Asiatique Riverfront sekalian nongkrong-nongkrong gaul :D
We are ready!
Waktu menunjukan pukul 07.00, sebagian dari kami pun sudah terbangun. Kaki mulai terasa pegal karena perjalanan beberapa kilometer kemarin, tapi hal tersebut tidak mematahkan semangat kami untuk mengunjungi tempat-tempat authentic di Bangkok. Setelah bersiap-siap, akhirnya kami berangkat sekitar pukul 10 pagi. Kami harus berjalan sekitar 1 km menuju pier terdekat yaitu Wat Muang Kae. Setelah jalan sekitar 20 menit, kami pun sampai di pier tersebut. Kami langsung menanyakan harga untuk ke pier Tha Tien, pier terdekat dengan Wat Pho. Sang pemilik perahu menawarkan THB 200 per orang. Kami pun kaget karena dari hasil riset sebelumnya, harga tiket untuk turis hanya THB 40. Setelah berdiskusi dengan sang pemilik perahu, kami pun mendapatkan kejelasan bahwa di pier tersebut, tidak ada perahu publik dan hanya ada perahu private. Wajar saja harganya pun lebih mahal dari tiket perahu publik.
Jalan menuju pier.
Harga yang terlalu mahal untuk kami pun membuat transaksi tersebut dibatalkan. Saya sempat menanyakan kepada pemilik perahu tentang perahu publik dengan harga yang lebih murah. Dengan polos, dia menunjukan pier Si Phraya yang terletak di sebelah pier Wat Muang Kae. Jujur saya kaget dengan sang pemilik perahu karena dia melakukan hal tersebut setelah saya tolak tawaran darinya. Sebagai patokan, sewaktu saya berada di Hyderabad, India; jangankan memberikan jawaban yang benar tentang pertanyaan saya setelah ditolak tawarannya; tawaran diterima pun kadang tidak sesuai dengan apa yang disepakati. Makanya saya kaget, masyarakat Thailand, khususnya Bangkok; sangatlah ramah walaupun ada juga yang menolak jika ditanya terkait keterbatasan bahasa inggris mereka.

Khao San road

Sekitar pukul setengah 11 siang, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju pier yang ditunjukan oleh sang pemilik perahu tadi. Dalam perjalanan menuju kesana, kami didatangi oleh seorang lokal yang cukup fasih berbahasa inggris. Seorang pria sekitar paruh baya yang percaya diri dan khas dalam berbicara. Dia menanyakan tujuan kami dan kami pun memberikan informasi bahwa kami akan mengunjungi Wat Pho. Dia mengatakan bahwa kami tidak bisa mengunjungi Wat Pho pada pukul 11-an karena para Bikshu beristirahat terlebih dahulu sampai pukul 1 siang. Walaupun kami kurang mempercayai perkataan pria tersebut, tapi kami tetap mengikuti apa yang dikatakan oleh dia karena kami tidak mau perjalanan ini menjadi sia-sia hanya karena ketidakpercayaan kami. Terpaksa kami pun harus merubah rencana perjalanan kami. Perjalanan menuju Wat Pho pun dirubah menjadi menuju Khao San road dengan tujuan makan siang disana. Sesampainya pier Si Phraya, kami langsung membeli tiket perahu menuju pier Phra Arthit yang berada sekitar 1 km dari Khao San road. Ketika ditanya harga perorangnya, saya pun terkejut dengan harga yang diberikan oleh petugasnya. Perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 15-20 menit hanya THB 16/orang (Kalo kita bulatkan kurs rupiahnya menjadi IDR 400, hanya sekitar 6400 rupiah/orang!!). Perasaan kami kaget sekaligus senang mendengar harga tersebut.

Setelah menunggu sekitar 5 menit, perahu kami tiba. Dengan ganasnya perahu yang akan kami tumpangi berhenti untuk mengangkut kami. Seorang kenek perempuan memberitahu kami menggunakan bahasa Thailand dengan lantang. Kami pun langsung menaiki perahu tersebut. Sekitar 15-20 menit sesuai dengan yang diprediksikan, kami sampai di pier “Phra Arthit”. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri untuk berfoto di sekitar pier tersebut. Kebetulan ada satu obyek yang bagus untuk dijadikan background untuk berfoto. Setelah kami puas, barulah kami berjalan kaki menuju Khao San road yang berjarak sekitar 1 km dari pier. Panas yang cukup terik kami lewati dengan semangat. Kami juga melewati suatu kawasan yang ramai oleh para turis yang sedang bersantai di cafe-cafe yang berjejeran sepanjang jalan. Keramaian turis tersebut menandakan bahwa tujuan kami sudah dekat. Tidak sampai 15 menit, kami pun sampai di Khao San road. Jalanan terkenal tersebut terlihat sepi. Kami menanyakan kepada orang lokal sekitar. Seorang supir tuk-tuk (bajai) menjadi sasaran bertanya kami. Dia memberitahu kami bahwa Khao San road tutup pada hari senin. Saya pribadi kurang bisa mempercayai perkataan bapak tersebut (lagi) karena saya memang orang yang kurang mudah untuk mempercayai perkataan orang lain. Saya melihat-lihat tempat sekitar Khao San road. Beberapa tempat terutama restoran memang terlihat sepi dari pengunjung dan memang terlihat seperti tidak sedang berjualan. Hati saya mulai mempercayai perkataan bapak tadi. Waktu terus berjalan, matahari semakin terik dan membuat perut kami berbunyi. Tujuan awal kami untuk mencari makan di Khao San road pun semakin sulit untuk terealisasi. Saya sendiri menawarkan alternatif untuk makan di kawasan turis yang kami lewati tadi, tapi beberapa dari kami sudah tidak kuat untuk berjalan lagi karena belum makan seharian. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk makan di McD yang memang buka 24 jam. Kami memesan makanan yang memang tidak ada di McD Indonesia untuk sedikit mengobati kekecewaan kami.
Riding a big boat!!
Menggila di pier Phra Arthit
Obyeknya mirip dengan Monas :D
Khao San road di siang hari
Salah satu menu yang beda dengan McD Indonesia Hahah...
Wat Pho

Setelah selesai makan siang di McD, awalnya kami berencana mengunjungi Siriraj Medical Museum, sebuah museum yang berisi tubuh atau bagian tubuh manusia yang diawetkan. Rencana tersebut kami batalkan karena beberapa pertimbangan seperti berikut:

- Tiket masuk ke Siriraj Medical Museum adalah THB 100 per orang, sedangkan uang kami sudah hampir habis karena kekeliruan prediksi pengeluaran.
- Untuk mencapai ke tempat tersebut, kami harus menyebrangi sungai Chao Phraya yang memang cukup besar. Apabila kami berjalan kaki, waktu dan tenaga kami habis. Apabila kami naik tuk-tuk, ada biaya tambahan yang dikeluarkan dan harga yang ditawarkan kepada kami cukup tinggi.
- Saat itu menunjukan pukul 1-2 siang, sedangkan kami masih memiliki 3 destinasi yang belum berhasil dikunjungi. Kami lebih memilih untuk mengunjungi temple daripada museum karena Bangkok memang terkenal dengan templenya.

Maka dari itu, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Wat Pho yang berjarak sekitar 1.4 km. Awalnya kami berjalan kaki sampai hampir setengah perjalanan, tapi karena terasa jauh dan panas, kami akhirnya memutuskan untuk naik tuk-tuk. Ada 2 tuk-tuk yang kami temui. Pertama, supir tuk-tuk menawarkan harga yang menurut kami berlebihan. Dia menawarkan harga THB 500 untuk perjalanan ke Wat Pho yang dimana hanya tinggal sekitar 1 km kurang. Sedangakan, supir tuk-tuk kedua hanya memberikan harga THB 100 dan otomatis kami langsung menyetujuinya. Ada satu hal yang menurut saya lucu. Ketika kami sampai di Wat Pho, kebetulan kami tidak memiliki pecahan uang kecil. Kami memberikan uang THB 1000 dan menanyakan apakah si supir memiliki kembalian. Si supir pun menjawab dengan bahasa Thailand yang kami sama sekali tidak mengerti, tapi dari gesturnya, si supir sepertinya tidak memiliki kembalian. Ketika kami sedang mencari ide, si supir tuk-tuk memberitahu kami satu kata yang pelafalannya cukup aneh di telinga kami sambil menunjuk ke arah depan. Kami pun menebak-nebak kata tersebut sampai akhirnya kami mengetahui apa yang dia maksud. Ternyata yang dia maksud adalah "sevel/seven eleven". Dia meminta kami untuk menukarkan uang di sevel, tapi sewaktu saya mau berjalan ke arah yang dia tunjuk, saya sama sekali tidak melihat adanya sevel di depan. Kami kembali bingung sampai kami mengganti ide menjadi membayarkan tiket masuk ke Wat Pho terlebih dahulu, baru kembaliannya kami bayarkan ke si supir tuk-tuk. Sewaktu kami mau turun dan masuk untuk membeli tiket, si supir terlihat marah sambil mengatakan kata-kata yang kami tidak mengerti (lagi). Dia mengeluarkan uang yang dia punya. Dia mencoba memberitahu kami, "Saya tidak ada kembalian, kalo mau kembaliannya kurang silakan ambil saja". Lalu kami mencoba untuk menjelaskan ide kami tapi dia tidak mau menerimanya dan hanya mau kami untuk mengikuti ide dia sambil menyuruh kami untuk masuk ke dalam tuk-tuknya. Kami pun mengikuti apa yang dia coba katakan. Ternyata dia mengantarkan kami ke sevel yang terdekat. Letak sevel tersebut memang tidak terlihat dari posisi kami sebelumnya karena memang berjarak sekitar 100-200 m dan harus belok dulu. Saya pun langsung turun menukarkan uang dan kembali kepada si supir tuk-tuk. Dia masih terlihat kesal sambil menggerutu. Saya memberi dia uangnya dan mengatakan dengan bahasa Indonesia sambil tersenyum "Terima kasih bapak lucu". Kejadian tadi pun membuat kami semua tertawa dan sedikit menghibur kami pada hari itu.
Di dalam Tuk-Tuk
Berpose sambil menunggu uang receh buat bayar tuk-tuk
Kami memasuki Wat Pho dengan membayar THB 100 per orangnya. Sejarah Wat Pho tertulis di beberapa tempat disana. Pada awalnya kami tidak tahu apa-apa tentang Wat Pho. Kami hanya ingin mengunjungi tempat wisata di Bangkok yang cukup terkenal ini. Dikarenakan keterbatasan pengetahuan kami tentang tempat wisata tersebut, maka kami hanya mengikuti arus para turis berjalan. Salah satu ruangan yang dipadati oleh arus para turis adalah sebuah ruangan panjang sekitar 50-60 meter yang dapat disimpulkan adalah ruangan wisata utama karena paling ramai arusnya. Sewaktu memasuki ruangan tersebut, kami diberitahu oleh petugas disana agar membuka sepatu dan berpakaian sopan terutama untuk wanita agar tidak memakai hot pant atau short. Begitu masuk, kami semua terkejut karena kami baru menyadari bahwa yang berada di dalam ruangan sepanjang 50-60 meter tersebut adalah patung Buddha berbaring raksasa yang terbuat dari emas dan panjangnya sekitar 40 meter. Kami tidak ingin ketinggalan untuk mengambil foto dan video dengan patung tersebut. Salah satu patung Buddha terbesar yang pernah saya kunjungi. Kami menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit di dalam ruangan tersebut.
Minta tolong ambil foto ke turis lain tapi fokusnya lupa dijadiin otomatis, jadi beginilah hasilnya. LOL
Reclining Buddha dilihat dari luar ruangan
Setelah puas menikmati patung Buddha raksasa, kami mengunjungi daerah lain di kawasan Wat Pho. Ada satu hal yang menarik lagi selain patung Buddha raksasa. Sewaktu kami menuju bagian belakang dari kawasan Wat Pho, kami menemukan sebuah vihara yang tentu saja masih aktif tapi banyak sekali turis yang masuk dan duduk merenung. Saya pribadi sempat bingung karena saya kira para turis tersebut masuk ke vihara tersebut untuk berdoa. Ketika saya perhatikan lagi di dalam vihara, ternyata mereka hanya duduk diam sambil melihat ke arah depan dimana terdapat patung Buddha emas sedang duduk menghadap ke arah mereka. Mungkin saja mereka sedang merenung atau mendapatkan ketenangan hati disana. Who knows.
Di dalam vihara
Waktu menunjukan pukul 4-5 sore. Beberapa diantara kami sudah terlihat kelelahan. Rencana awal kami adalah berburu sunset di temple Wat Arun. Sebenarnya Wat Arun sangat dekat dengan Wat Pho karena hanya berjarak 850 meter dan hanya perlu menaiki perahu untuk menyebrangi sungai Chao Phraya tapi kami terpaksa membatalkan rencana tersebut karena kami sudah cukup kelelahan dan sudah LAPAR. Hahaha.... Jadi, kami langsung menuju tujuan terakhir kami di hari tersebut yaitu Asiatique Riverfront dengan menggunakan perahu menuju pier Wat Rajsingkorn.

Asiatique Riverfront

Sebelumnya kami mengira bahwa Asiatique Riverfront ini mirip dengan Clarke Quay di Singapura, tempat orang-orang nongkrong, menikmati makanan dan minuman di cafe-cafe yang tersedia. Setelah kami sampai di tempatnya, perkiraan kami sedikit melenceng. Asiatique Riverfront lebih menyerupai perpaduan antara Paris Van Java, Bandung dan Dufan, Jakarta. Selain terdapat cafe, di tempat ini juga terdapat area perbelanjaan layaknya PVJ dan area bermain seperti gokart dan kincir angin layaknya Dufan. Tempat ini memiliki 9 warehouse (sebutan untuk area). Setiap warehouse memiliki jenis jualan yang berbeda. Dimulai dari restoran sampai jualan aksesoris memiliki warehouse-nya masing-masing.
Area bermain di Asiatique Riverfront
Area Riverfront
Sesaat setelah sampai di tempat ini, kami memiliki ide untuk membuat sebuah video dance di area umum. Tempat ini adalah salah satu tempat ideal untuk membuat video di tempat umum karena selain pemandangannya yang bagus, di tempat ini pun banyak turis yang berlalu-lalang maupun berfoto-foto. Tidak lama kemudian, dimulailah pengambilan video kami. Beberapa take sudah kami lakukan, tapi masih saja ada yang kurang sempurna karena ada beberapa gerakan yang lupa. Banyak turis yang menonton kami. Kami tidak menyerah sampai akhirnya pada take ke sekian belas, kami diberhentikan oleh petugas setempat. Kami dilarang untuk mengambil video di area tersebut. Kami menanyakan alasannya tapi si petugas tidak mengerti bahasa inggris. Mereka hanya bisa menggunakan bahasa Thailand dan juga bahasa tubuh. Setelah kami terus menanyakan alasannya, akhirnya dia mengeluarkan smartphone dan memperlihatkan suatu peringatan dalam tulisan Thailand campur angka yang mungkin kurang lebih berbunyi seperti ini "Dilarang mengambil video di area ini. Bagi yang melanggar, akan didenda sebesar USD 5000." Setelah melihat peringatan tersebut, barulah kami mengetahui bahwa ada peraturan tertulis dan kami pun mengerti kenapa tidak boleh mengambil video di area tersebut. Kami akhirnya menghentikan aktivitas pengambilan video di area itu dan memutuskan untuk mencari tempat makan.

Bingung memilih makan dimana, kami memutuskan untuk melakukan survey dari tempat makan satu ke tempat makan lainnya dengan melihat menu yang ditawarkan dan harga tentunya. Setelah sekitar 15 menit kami survey, akhirnya kami memutuskan untuk makan di "Wild Orchid restaurant". Salah satu daya tarik restoran tersebut adalah memiliki pelayan yang sangat antusias, bersemangat, baik, dan lucu (dalam artian sebenarnya). Ada beberapa makanan yang kami masih penasaran untuk mencobanya. Salah satunya adalah Pad Thai. Sebenarnya kami sudah mencoba Pad Thai kemarin, tapi rasa dan harganya sangat mengecewakan. Rasanya sangat biasa atau bisa dibilang hambar dan harganya cukup mahal. Selain Pad Thai, kami juga memesan TomYum dan Mapo Tofu.

5 menit berlalu dan makanan akhirnya datang semua. Kami sudah sangat tidak sabar untuk mencobanya. Begitu kami mencoba hidangan yang sudah disajikan oleh pelayan, kami pun sangat terhanyut dalam rasa yang begitu lezat (serius enak banget!!). Tidak ada satupun hidangan yang tidak enak. Harganya juga lebih murah daripada harga makan di pinggir jalan kemarin.
Hidangan makan malam di Wild Orchad Restaurant
Have a good dinner!
Setelah kenyang, kami berkeliling di sekitar Asiatique Riverfront. Kami menemukan satu tempat seperti swalayan kecil yang menjual snack atau oleh-oleh khas Bangkok dengan harga yang lebih murah dari yang pernah kami lihat sebelumnya. So, of course we SHOP again!! Kami membeli snack sebanyak 1 kantung kresek besar dan 1 kantung kresek kecil. Snack toast bread rasa tomyum hanya seharga THB 30 (which is +- IDR 12.000) dan snack durian kering (250 gr) seharga THB 250 (+- IDR 100.000). Untuk snack durian memang cukup mahal dimana-mana, but it's worth it because I love Durian very much!! Selain belanja oleh-oleh, sebagian dari kami juga belanja baju dan celana.

Setelah puas dengan makan dan belanja, kami pulang dengan menggunakan Uber. Harga Uber disana memang hampir sama dengan harga Uber di Indonesia. Hanya beda mata uang saja. Perjalanan hari kedua pun selesai walaupun tidak semua rencana berjalan dengan baik. Satu hal yang membuat kami senang adalah bukan tentang seberapa banyak tempat di dalam rencana yang berhasil kami kunjungi, tapi seberapa mengasyikan aktivitas yang kami lakukan bersama disana. So, see ya on the third day in Bangkok!!
Foto bersama di kawasan Wat Pho
Berdoa di dalam kawasan The Reclining Buddha

Tuesday, September 20, 2016

AOE: Bangkok Hari #1

 CGK to DMK

Bangkok memang sudah menjadi tujuan liburan saya dan grup dari lama tapi belum sempat terealisasi karena bentrok jadwal satu sama lain. Tahun ini, kami memiliki kesempatan emas untuk berkunjung kesana karena kami menemukan waktu yang pas untuk berlibur. Tiket pesawat pun kami cari dengan semangat. Bukan hal yang mudah untuk menemukan tiket pesawat murah. Promosi yang ditawarkan oleh para agen kami dapatkan, tapi tidak segampang membalikan tangan. Uang yang tersedia saat itu menjadi kendala, akibatnya tiket selalu kehabisan. Kami mencoba segala cara dari mulai mencoba cek di maskapai langsung pada jam tertentu sampai menanyakan kepada teman-teman yang sudah berpengalaman traveling kesana. Kami hampir saja frustasi bertaruh dengan waktu yang sudah ditetapkan. Waktu pun berjalan semakin mendekati hari H. Kami sempat ingin menyerah untuk membeli tiket reguler yang harganya cukup mahal, yaitu hampir IDR 2 juta untuk pulang pergi per orangnya (memang berencana untuk traveling low budget); sampai akhirnya rezeki kami pun datang. Promosi baru mulai disebarkan oleh para agen. Ada 3 agen yang kami pilih, salah satunya kami jadikan partner apabila mencari tiket pesawat kemana saja karena harga tiket di agen tersebut lebih murah dari yang lainnya, dapat dipercaya, dan servisnya pun cukup memuaskan. Kami mendapatkan tiket CGK- DMK seharga IDR 850 ribu untuk pulang pergi perorangnya. Lebih dari 50% murahnya dari tiket reguler. Kami langsung membeli tiket tersebut tanpa menunggu lagi dan rencana kami untuk liburan ke Bangkok akhirnya terealisasi.

Selain mencari tiket pesawat, kami juga harus mencari tempat penginapan. Saya pribadi memilih situs Booking.com (bukan promosi ya) karena di situs tersebut, saya dapat booking terlebih dahulu tanpa ada pembayaran sedikitpun dan gratis biaya pembatalan (apabila terdapat informasi "free cancelation"). Beberapa penginapan pun kami sortir dan akhirnya kami dapat satu penginapan yang sesuai dengan selera kami. Murah, nyaman, bersih, dan tidak banyak aturan. Adalah O'Nidra house, sebuah guest house 5 lantai yang terletak di Surawong road, Bangkok. Tempat ini menyediakan kamar seperti asrama, satu kamar sharing dengan customer lainnya. Kami memilih kamar tersebut karena grup kami memang terdiri dari 4 orang dan tidak ingin terpisah karena masalah kenyamanan dan keamanan. Harga yang kami bayar pun cukup murah yaitu THB 4025 untuk 4 orang dan 4 malam. Jadi seorangnya sekitar THB 251 atau sekitar IDR 95 ribu per malamnya. Cukup murah kan?

Waktu terus berjalan. Hari H pun tiba. Kami semua bergegas berangkat ke bandara Soekarno-Hatta dan tiba pada pukul 3 sore karena jadwal keberangkatan kami pada pukul setengah 5 sore. Ketika sampai dan melihat jadwal keberangkatan, pesawat kami ternyata delay 2.5 jam. Kami pasrah menghabiskan waktu di bandara. Makan, ngobrol-ngobrol, dance, dan aktivitas lainnya kami lakukan di bandara. Sekitar pukul setengah 6 sore, kami memasuki area boarding room. Pihak maskapai pun meminta maaf karena delay dan memberi para penumpang nasi kotak sebagai permintaan maaf. Kami tentu saja cukup senang karena mendapatkan makan malam gratis. Hahaha... Nasi kotak tersebut langsung kami santap sampai habis karena memang sudah cukup lapar setelah menunggu 2.5 jam.

Waktu menunjukan pukul 7 malam, tapi kami pun belum diminta untuk masuk ke dalam pesawat. Ada beberapa penumpang lain yang marah karena tidak ada penjelasan tentang keterlambatan keberangkatan. Kami hanya sibuk dengan diri kami sendiri karena marah pun tidak akan membuat kami semua berangkat. Pihak maskapai kembali meminta maaf melalui pengeras suara karena pesawat kembali delay 1 jam. Sesaat setelah mendapatkan informasi tersebut, kami kembali melakukan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya kami lakukan untuk menghabiskan waktu.


Berjam-jam menunggu keberangkatan.
PUKUL SETENGAH 9 MALAM!! Akhirnya kami dipersilakan untuk masuk ke dalam pesawat dan tidak lama kemudian kami pun diberangkatkan menuju bandara Don Mueang, Bangkok.

Setelah sekitar 3 jam perjalanan CGK-DMK, akhirnya kami sampai di DMK. Kami semua turun menuju bagian imigrasi. Pendatang yang masuk ke imigrasi sangat banyak sampai mengantri 5 baris!! Dengan sabar kami menunggu sampai akhirnya berhasil masuk ke dalam area bandaranya. Ada satu hal yang menyita perhatian saya. Pada saat itu sudah pukul 1 malam dan kami harus melewati bagian bea cukai/pengecekan barang yang akan masuk ke kota Bangkok. Begitu masuk ke area bea cukai tersebut, saya tidak melihat satu pun orang yang menjaga. Hanya ada mesin scan barang yang tidak dijalankan di area tersebut. Awalnya saya bingung, takut salah masuk area, tapi petugas setempat membenarkan bahwa pintu keluar harus melewati area tersebut. Kami pun bisa keluar tanpa ada pengecekan barang sama sekali. Aneh bukan? Gimana kalo ada barang-barang aneh ya?
Menunggu antrian di bandara Don Mueang, Bangkok.
Sesaat setelah keluar bandara, kami langsung mencari kartu sim untuk jaga-jaga apabila kami tersesat. Memang di sekitar bandara banyak yang menjual kartu perdana beserta paket yang ditawarkan. Kami memilih kartu "True Move" tak lain hanya karena paket datanya. Mereka menawarkan paket data turis yang terdiri dari pulsa THB 100, kuota full speed koneksi data sebesar 2 atau 3.5 GB (lupa), dan memang sudah menggunakan koneksi 4G. Harga kartu tersebut hampir sama dengan harga kartu perdana di Indonesia yaitu sekitar THB 299 atau kurang lebih sekitar IDR 120 ribu. Kami juga meminta tolong kepada si penjual untuk men-setup kartu perdana tersebut karena tulisan yang tersedia di awal adalah tulisan Thailand yang tidak kami mengerti. Dan ketika kami sudah memiliki koneksi internet, kami langsung memesan Uber karena saat itu sudah terlalu larut malam (sekitar pukul 2 pagi).


True Move sim card
Begitu sampai di O'Nidra house, kami langsung masuk dari pintu belakang. Awalnya kami bingung karena tempat tersebut terlihat tutup dari luar. Begitu kami telepon sang penjaga, kami pun diberi password untuk membuka pintu belakang dan uniknya lagi, para pelanggan yang datangnya melewati jam check-in (21:00), dipajang nama dan kamar serta lantainya di pintu belakang. Kami langsung bergegas menuju kamar kami di lantai 2 untuk beristirahat.


Ucapan selamat datang di depan pintu kamar.
Kamar yang kami tempati.
Keesokan harinya, kami melakukan check-in dan membayar penginapan terlebih dahulu. Biaya penginapan kami untuk 4 orang dan 4 malam hanya THB 4025 atau sekitar IDR 1.5 juta. Dengan kamar yang nyaman dan bersih, harga tersebut sudah sangat murah.

Chatuchak Weekend Market

Hari kedatangan kami adalah hari minggu dan kami memutuskan untuk belanja terlebih dahulu di salah satu pasar weekend terkenal di Bangkok yaitu Chatuchak Weekend Market. Untuk menuju ke pasar ini, kami perlu menaiki BTS (Bangkok Mass Transit System). Kami berkonsultasi terlebih dahulu kepada petugas BTS setempat. Sistemnya mirip MRT di Singapura, namun hanya paket yang ditawarkannya saja yang berbeda. BTS memiliki paket untuk turis yang dibuat berdasarkan jumlah trip dan valid untuk 7 hari. Bangkok memberi nama kartu tersebut "Rabbit card". Setelah berdiskusi selama beberapa menit, akhirnya kami memutuskan untuk membeli paket dengan 25 trip selama 7 hari karena kami memprediksikan akan sering menggunakan BTS untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Harga total yang dikeluarkan sekitar THB 3000 untuk 4 Rabbit card. Cukup mahal untuk low budget traveler, tapi kami tidak mempermasalahkannya. Toh, kami pun akan sering berpindah-pindah tempat dari tempat satu ke tempat lainnya.
Rabbit card.
Stasiun Surasak.

Setelah itu, kami langsung bergegas menuju tujuan dengan menggunakan kartu tersebut. Perjalanan dari stasiun terdekat (stasiun Surasak) menuju stasiun yang dekat dengan Chatuchak Weekend Market (stasiun Mo Chit) memakan waktu sekitar 15 menit. Begitu sampai di stasiun Mo Chit, kami tinggal berjalan kaki beberapa puluh meter untuk mencapai Chatuchak. Keramaian pun terlihat semenjak kami turun dari BTS. Banyak sekali turis yang berlalu-lalang di stasiun dan sekitarnya. Suasana khas pasar tradisional menandakan bahwa kami sudah sampai di tempat tujuan. Berbagai macam street food terlihat di tempat ini dan berhasil mencuri perhatian kami. Mata kami tidak bisa lepas dari jajanan tersebut. Kami membeli daging ayam yang ditusuk seperti sate dan juga sosis tusuk (mungkin makanan seperti ini bisa ditemukan dimana-mana, tapi entah kenapa jajanan seperti ini sangat menggiurkan di Bangkok) dengan harga hanya THB 10!!! WOW!! Cukup kaget ada yang menjual daging ayam, sapi, ikan, maupun babi dengan harga segitu. Selain itu, kami pun membeli spring roll atau di Indonesia terkenal dengan lumpia kering. Banyak sekali street food yang menarik perhatian kami. Bangkok memang terkenal dengan street food.

Tidak lama kemudian, kami memutuskan untuk makan siang di pasar ini. Kami memilih makan di pinggir jalan agar dapat aspek authentic-nya. Kami memesan Pad Thai, Ayam goreng 1 ekor, dan juga Mango Sticky Rice. Kami berekspetasi sangat tinggi terutama untuk Pad Thai dan Mango Sticky Rice karena memang 2 makanan tersebut adalah salah satu makanan Thailand yang paling terkenal. Setelah menunggu sekitar 10 menit, makanan pun datang. Kami dengan tidak sabar langsung mencoba semua makanan yang tersedia. Setelah mencoba, kami agak kecewa karena Pad Thai yang disajikan terasa hambar. Kami tidak tahu rasa asli Pad Thai (rasa asli Pad Thai di Thailand) karena itu kami tidak protes. Setelah 30 menit, makanan yang tersedia pun habis karena walaupun kurang enak tapi kami sangat lapar. Kami meminta bill tagihan. Begitu bill datang, kami sangat terkejut karena tagihannya membengkak. Harga total makan siang kami sekitar THB 650 atau sekitar IDR 250 ribu. Dengan makanan yang kurang enak serta di pinggir jalan, harga tersebut sudah termasuk kategori terlalu mahal. Kami pun meminta penjelasan harganya satu persatu. Si penjual pun menjelaskannya dengan detail. Memang dari awal, kami sudah salah karena tidak menanyakan harganya terlebih dahulu. Kami pun membayarnya dengan berat hati. Kami merasa terptipu, tapi yasudahlah. Namanya juga pengalaman di negara orang. Nikmati saja.
Berpose di depan Chatuchak Weekend Market.
Untuk melupakan kejadian kemahalan makan, kami langsung menuju ke daerah utama pasar Chatuchak. Kami belanja pakaian, makanan kering untuk oleh-oleh, dan lainnya. Harganya pun cukup murah asalkan pandai memilih. Waktu yang kami habiskan disana mencapai hampir 3 atau 4 jam. Cuaca yang panas dengan matahari yang terik membuat kami merasa capek dan berhenti berbelanja. Sesaat sebelum perjalanan pulang menuju stasiun, saya membeli durian monthong karena saya memang pecinta durian dan penasaran dengan durian disini. Harga durian yang sudah dibuka hampir sama dengan harga durian di pulau Jawa. 3 atau 4 line buah durian besar sekitar THB 300 atau sekitar IDR 120 ribuan. Sekali-kali boleh lah memanjakan diri di negeri orang. Hehehe. Kami semua pun setuju untuk menyantap durian terlebih dahulu di Chatuchak Park. Duriannya cukup lezat, bijinya pun sangat kecil, dan buahnya sangat banyak. Tidak ada lagi yang spesial selain itu semua.
Durian party!!
Setelah 30 menit kami menghabiskan durian, kami akhirnya bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju tujuan berikutnya yaitu mall Platinum yang konon katanya, harganya pun murah-murah terutama untuk urusan fashion. Kami harus turun di stasiun Siam atau Chit Lom yang dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar beberapa ratus meter. Pertama kami sampai di stasiun tersebut, kami mengandalkan Google Maps dari kartu sim yang telah kami beli sebelumnya. Kami mengikuti apa yang maps arahkan. Setelah hampir 15 menit berjalan kaki, kami akhirnya menyadari bahwa GPS di dalam map tersebut tidak jalan. Sangat mengecewakan karena kami membeli kartu sim tersebut memang untuk menavigasi apabila kami nyasar di suatu tempat. Akhirnya kami pun menggunakan cara manual yaitu bertanya kepada orang-orang sekitar. Ternyata selama hampir 15 menit kami menghabiskan waktu untuk berjalan kaki tadi, kami berjalan ke arah yang salah. Kaki kami sudah tidak bisa membohongi kami lagi. Kami sudah cukup lelah untuk perjalanan hari tersebut. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju mall fashion Platinum.

Setelah istirahat beberapa menit, kami melawan rasa capek untuk melanjutkan perjalanan. Berjalan kaki sekitar 20 menit, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Mall Platinum menurut saya mirip dengan BTC di Bandung atau Mangga Dua Square di Jakarta Utara. Memang harganya tidak semurah di Chatuchak tapi sudah cukup murah untuk ukuran mall. Kami akhirnya survey harga dan belanja walaupun sedikit. Hahaha.. Memang tujuan dari hari pertama kami di Bangkok ini adalah belanja. Didekat mall Platinum yang sedang kami singgahi ternyata terdapat night market. Lagi-lagi, kami kalap belanja lagi. LOL.

Hari pertama di Bangkok pun telah usai. Kami pulang dengan beberapa kantung belanjaan kami. Tidak ada kata menyesal untuk hari pertama ini walaupun ada beberapa kejadian mengecewakan. Namun semua itu untuk pengalaman kami karena segala sesuatu yang baru adalah untuk pembelajaran kedepannya, untuk modal dalam memilih sebuah keputusan. Kami senang walau kaki sudah pegal-pegal. Satu kalimat yang ada di benak kami saat itu, "Tidak sabar rasanya ingin menikmati tempat wisata esok hari". Well then, see you on day 2!!!